Selasa, 28 Juli 2026

Mengapa kita belajar bahasa Inggris?

 


Entah pernah ditulis di sini atau belum, tapi saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah cerita: Pada suatu hari di saat saya masih kelas 1 SMP, di saat tidur siang saya dibangunkan secara paksa oleh ibu. "Ayo berangkat les bahasa Inggris." Tentu saja saya berontak dan merasa sudah bisa kok ngapain les-les segala. Dengan sepeda motor bututnya ibu mengantarkan saya ke tempat les di kota kecamatan, yang jaraknya sekitar 6 atau 7 km dari rumah. Kondisi ekonomi keluarga kami saat itu pas-pasan —kelas menengah, kalau orang-orang bilang. Namun, untuk urusan pendidikan, orang tua saya tak pernah berpikir dua kali. Seringkali saya menangis tersedu-sedu jika tidak dibelikan mainan. Tapi, kalau untuk keyword "pendidikan", pasti akan diusahakan. Dari situlah, saya mulai berkenalan (secara lebih mendalam) dengan bahasa yang super inkonsisten ini.

Dua kali seminggu, selama satu setengah jam per sesi, saya mengikuti les bahasa Inggris di kota kecamatan tersebut. Saya belajar mulai dari nol banget, mulai dari belajar sapaan dasar, tata bahasa, hingga latihan percakapan, dan ujian lisan. Total durasi saya dari menyelesaikan kurikulum di kursusan itu hampir 2 tahun.

Ada satu aturan dari Bapak Subekti (alm) selaku headmaster saat itu "If you speak Indonesian, go home." Selama berada di lingkungan tempat les tersebut tidak diperkenankan bicara dalam bahasa apapun selain bahasa Inggris. Waktu itu sih ada perasaan ganjel juga. Jadi, kami nyolong-nyolong kalau ingin mengobrol biasa dalam bahasa Jawa.

Alasan orang tua mengkursuskan bahasa Inggris saya kala itu mungkin hanya se-pragmatis agar nilai di sekolah baik. Tidak (atau belum) ada visi besar mengenai pergaulan internasional atau karier global. Bagi mereka, yang penting anak-anaknya tidak ketinggalan di sekolah. Dan, memang terbukti, sejak dileskan saat itu, nilai bahasa Inggris saya di sekolah tidak pernah kurang dari 90. Saya selalu bisa mengikuti pelajaran, karena apa yang dipelajari di kursus sudah maju 10 bahkan 15 bab lebih awal. Terlebih hari ini —bertahun-tahun setelah segala drama pemaksaan les itu— saya pun merasakan manfaatnya. Karena dari awal saya sudah dididik dengan berbicara dengan tata bahasa yang akurat, jadi saya tidak lagi kaget dan membikin-bikin pembenaran "Tidak apa-apa namanya komunikasi yang penting sama-sama ngerti. Tidak harus bener grammar-nya." Saya jadi mengerti betul kapan suatu kalimat salah secara tata bahasa tanpa mengandalkan feeling. Saya yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris jadi biasa saja saat menggunakannya —seperti saat berbicara dalam bahasa Indonesia.

Dua tahun yang menyita jam bermain saya selama dileskan waktu itu saya rasakan juga ketika lulus kuliah. Sejak di sekolah saya sudah merasa bahwa kemampuan bahasa Inggris saya di atas teman-teman (yang tidak seberuntung saya dipaksa untuk les). Ini terlihat dari nilai rapor tadi, dan nilai ujian nasional bahasa Inggris 9/10. Hal ini juga semakin diperjelas oleh nilai TOEFL yang pertama kali saya ikuti setelah lulus kuliah D-4 yaitu 630. Saya pun heran dari mana nilai setinggi itu, dan itu adalah rekor tertinggi saya pribadi. Meski di tes-tes berikutnya naik-turun di angka 600-an dan tidak pernah menyentuh target 650, saya tidak lagi ambil pusing.

Begitu pula saat pertama kali mengikuti tes IELTS 10 tahun silam, nilai akhir 6,5 hingga hari ini melonjak ke 8,0. Banyak teman pun bertanya buku apa yang dipakai dan bagaimana startegi belajarnya. Persiapan saya waktu itu cuma seminggu dengan buku Barron's IELTS 6th Edition yang dibeli oleh istriku pada tahun 2022 silam dan lebih banyak saya fokuskan untuk me-refresh kembali seperti apa wujud tesnya karena sudah 10 tahun berlalu. Persiapan sesungguhnya adalah sejak hari pertama saya dibangunkan paksa untuk les ketika SMP dulu. Perjalanan belajar bahasa Inggris adalah upaya yang terus menerus. Memang betul, sejak kuliah saya sudah tidak pernah lagi "belajar" bahasa Inggris dalam arti klasikal (membaca buku-buku grammar, mengerjakan soal-soal, dan sejenisnya). Bagi saya, membaca buku novel berbahasa Inggris juga bentuk pembelajaran. Menonton vlog bule yang berlibur juga belajar. Berbicara dalam hati dalam bahasa Inggris juga belajar. Bahkan, menulis blog berbahasa Inggris pun belajar.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa kita belajar bahasa Inggris? Bagi saya, kemampuan berbahasa —apapun itu— tujuan semestinya dan idealnya adalah untuk berkomunikasi. Saya mati-matian belajar bahasa Jepang beberapa tahun terakhir ini sama sekali tidak bertujuan untuk JLPT. Justru sebaliknya, JLPT lah yang menjadi ukuran baku saya dalam menjawab "apakah levelku sudah segini?" Waktu 2023 saya kembali membuka buku Minna no Nihongo pun, tujuan saya yang utama adalah "Nanti kalau sudah hidup di Jepang, setidaknya bisa berkomunikasi dengan baik."

Sebagai penutup, coba kita renungkan kenapa kita bisa sangat lancar berbahasa Indonesia bahkan meski bahasa ibu kita adalah bahasa daerah. Tentu, karena pembiasaan, bukan? Bertahun-tahun kita dicekoki dengan bahasa Indonesia di sekolah, di tayangan televisi, di iklan, dan sebagainya. Jadi, seperti itu pulalah cara saya (mungkin) dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Kenaikan skor IELTS dari 6,5 ke 8,0 itu tidak terjadi karena saya terus menerus berlatih IELTS. Saya yakin, tes-tes terstandar itu —apapun namanya, JLPT, TOEFL, IELTS—yang penting kemampuannya harus ada dulu (90-95%), masalah strategi itu baru dipikir belakangan (5-10%). Mulai sekarang, fokuskan dulu pada penguasaan bahasanya. Belajarlah bahasa Inggris untuk meningkatkan skill bahasa Inggris itu sendiri. Do it for the love of the game. Maka tak perlu lagi nanti kita disibukkan dengan strategi-strategi atau buku-buku penunjang sebelum tes IELTS. "Lah, kalau sudah telat bagaimana?" Tidak ada kata terlambat. Saatnya mengeluarkan pepatah Tiongkok ini lagi untuk diingat-ingat:


Tangerang Selatan, 28 Juli 2026






Tidak ada komentar:

Posting Komentar