Kemarin, Senin, 21 Juli 2026 pukul 2 dini hari saya ikut nonton bareng (nobar) final piala dunia di sebuah kafe. Saya sempat curi dengar ada penonton mengomentari "Ini siapa sih pemain kribo. Oh Cucurella." Dia mengucapkannya sebagaimana pengucapan dalam bahasa Indonesia, cu-cu-rel-la. Mendengar itu, saya sempat ingin berkomentar tapi saya simpan saja dan tetap fokus ke layar besar di depan. Kejadian kecil saat nobar itu membuatku sadar: betapa seringnya kita salah mengucapkan (mispronounce) nama orang, tempat, atau istilah asing dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia adalah bahasa fonetik, artinya hampir semua kata diucapkan sebagaimana tertulis. Karena kebiasaan, kita pun sering melafalkan nama atau istilah asing sesuai dengan ejaan kita dalam bahasa Indonesia, seperti Cucurella tadi.
Di banyak negara, cara penulisan dan cara baca bisa begitu berbeda (dari cara baca kita dalam bahasa Indonesia). Misalnya Cucurella tadi, dalam bahasa Spanyol/Katalunya huruf dobel l dibaca seperti huruf "y" dan c dibaca "k" sehingga pelafalan yang tepat adalah kukureya. Begitu juga kiper Cape Verde yang naik daun, Vozinha —masih banyak yang melafalkannya vo-zin-ha, padahal "nh" dalam bahasa Portugis dibaca seperti "ny" dalam bahasa Indonesia. Sehingga pelafalan yang benar adalah vozinya.
Beralih ke dunia sains. Saya masih ingat betul dengan kuliah Pengantar Teknologi Nuklir oleh Prof. Wisnu Arya Wardhana. Ada satu fenomena dalam fisika nuklir yang disebut Efek Auger —yaitu suatu fenomena/proses ketika sebuah atom memiliki kekosongan elektron di kulit bagian dalam sehingga untuk mencapai kestabilan elektron dari tingkat energi yang lebih tinggi mengisi kekosongan tersebut. Kelebihan energi dari proses itu tidak dipancarkan dalam bentuk foton (sinar-X) namun dalam bentuk elektron juga, yang disebut elektron Auger. Dalam kuliahnya, Prof. Wisnu menyebutkan bahwa Auger di situ dibaca oze. Saya masih mengingat pesan tersebut, bahkan bertahun-tahun setelah lulus dari STTN. Karenanya, ada rasa "geli" tersendiri ketika dosen waktu S-2 dulu atau teman sekantor menyebut efek Auger atau elektron Auger itu sebagaimana tertulis (a-u-ger).
Contoh lain adalah nama-nama orang Jerman. Masih banyak yang membaca Euler menjadi yuler (karena mengikuti aturan pengejaan bahasa Inggris), Freud dibaca sebagaimana "eu" dalam bahasa Sunda, dan Neuer dibaca apa adanya "newer". Padahal, diftong eu dalam bahasa Jerman dibaca "oi" atau "oy".
Di sisi lain, saat kita berbicara dalam bahasa asing (Inggris misalnya), lidah kita pun kepleset ketika melafalkan nama-nama kota kita sendiri. Jakarta menjadi jekarda, misalnya; atau yang paling bikin saya gedeg ketika di bandara mendengar Garuda Indonesia menjadi Garuda Indenezya. Memang betul ada fenomena asimilasi fonetik, yakni ketika seseorang berbicara dalam bahasa Inggris maka lidahnya otomatis akan mengikuti sistem pengejaan dalam bahasa Inggris itu pula. Namun, itu kan saat bule yang berusaha mengucapkan nama-nama kota kita dengan lidah mereka. Kenapa kita harus mengikuti lidah mereka juga saat mengucapkan nama-nama kota kita sendiri? Saat kita diharuskan membaca London sebagai landen, harusnya mereka pun mengucap Jakarta sebagai ja-kar-ta dengan r dan t yang jelas.
Pada akhirnya, salah mengucapkan nama orang atau istilah asing adalah hal yang lumrah —terutama bagi kita yang sudah terbiasa dengan aturan ejaan bahasa Indonesia. Namun demikian, berusaha melafalkan suatu istilah sesuai dengan bagaimana istilah atau nama itu dilafalkan bukanlah hanya soal gaya-gayaan. Itu adalah sebuah bentuk apresiasi kecil terhadap identitas, sejarah, serta keberagaman budaya dan linguistik.
Tangerang Selatan, 21 Juli 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar