Kemarin sore, pukul 18:05 WIB, saya menonton The Odyssey setelah menunggu hampir 2 minggu agar kebagian kursi baris D atau E (jujur, malas mendongak di barisan depan). Tak seperti biasanya, IMAX hari itu penuh sesak padahal hari kerja! Tentu, siapa pun yang telah mengenal racikan Christopher Nolan —mulai dari The Dark Knight Trilogy, Dunkirk, hingga Oppenheimer— pasti penasaran dengan visi Nolan dalam menggambarkan epos yang telah dikisahkan bergenerasi-generasi ini. Jadi, mari kita ulas The Odyssey versi Christopher Nolan yang telah memenuhi IMAX selama berminggu-minggu ini.
***
Sinopsis
"A face, a fleet, a war..."
Film dibuka dengan sebuah puisi yang dibacakan oleh seorang rhapsode di atas meja makan malam. The song of Odysseus, menceritakan tentang petualangan Odysseus yang menghabiskan bertahun-tahun untuk mencapai Troya, membumihanguskan kota itu, dan masih juga belum kembali dari pengembaraannya.
Malam itu, di tengah jamuan makan malam, dari balik tirai Penelope sang permaisuri Ithaka —istri Odysseus— terlihat sibuk menenun kain. Sebuah teknik kuno yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menghasilkan sehelai kain kafan.
Setelah bertahun-tahun ditinggal oleh Odysseus, para peminang (suitors) dari seluruh penjuru negeri datang dengan satu tujuan: menaiki takhta Raja Ithaka dengan menikahi Penelope yang telah hampir 20 tahun ditinggalkan sang suami —yang nasib dan keberadaannya saat ini juga tidak jelas.
"Stop. I don't want Odysseus' song. I want Odysseus."
Teriak Penelope memecah perhatian seluruh peminang yang sedang menyantap hidangan dengan lahapnya. Semua peminang pun protes. Sudah bertahun-tahun mereka merasa digantung. Odysseus tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali dalam waktu dekat, apa lagi yang ia tunggu?
***
Odysseus terbangun. Di depannya terhampar lautan Mediterania. Di pantai itu, tampak puing-puing kapal berserakan. Entah sudah berapa lama ia berada di sana, mengumpulkan papan dari bangkai kapal itu. Calypso mendekat, menanyakan apakah Odysseus sudah mulai mengingat kejadian yang telah ia alami.
Malam itu, di depan api unggun, Odysseus menceritakan serangkaian kejadian dalam perang Troya. Mereka mempreteli sendiri kapal-kapal mereka, lantas membuat sebuah patung kuda yang sangat besar sehingga Odysseus dan krunya dapat masuk ke dalamnya. Selama berhari-hari mereka hidup berdesak-desakan...
"We stood in our own piss and shit."
Pasukan Troya pun mendekat. Sinon menyambut mereka dan bersumpah demi dewa-dewi yang sama-sama mereka sembah (common gods) bahwa kuda kayu ini persembahan untuk menenangkan murka Athena. Terperdaya oleh narasi sakral itu, pasukan Troya pun memasukkan patung itu dan meletakkannya di depan kuil Pallas Athena.
Pada malam harinya, ketika seluruh kota terlelap, Odysseus dan pasukannya keluar dari perut Kuda Troya. Mereka menyerang penjaga dan segera bergegas menuju gerbang kota, memberi sinyal kepada bala tentara Agamemnon untuk masuk dan membumihanguskan Troya yang selama bertahun-tahun tak tertembus.
Cerita mengenai jatuhnya kota Troya pun tersebar ke seluruh Mediterania. Namun, bagi Odysseus sendiri, kisahnya baru dimulai. Setelah menyampaikan salam perpisahan dengan Agamemnon, sauh pun diangkat. Armada Odysseus yang terdiri dari tiga kapal segera bertolak menuju Ithaka. Siang pun berganti malam, hari berganti minggu, dan persediaan mereka menipis.
Kesialan demi kesialan pun menghampiri setelah Odysseus membutakan Polyphemus, si raksasa bermata satu (cyclops). Ia yang ternyata adalah anak Poseidon pun berdoa kepada ayahnya untuk mengutuk pasukan Odysseus itu.
Sebagai sang penguasa laut, Poseidon yang tidak terima dengan perlakuan mereka kepada Polyphemus pun murka. Beberapa kali armada Odysseus terkena badai dan secara tidak langsung mengganggu navigasi mereka.
Armada Odysseus tak sengaja mendarat di pulau Laistrigones yang berisi raksasa kanibal. Satu buah kapal dan banyak kru lenyap setelah terkejar oleh para raksasa di pesisir. Di sini, para kru mulai menunjukkan ketidakpercayaan kepada Odysseus. Rencana-rencananya serta tindakannya menantang Sang Dewa Laut telah membuat banyak anggota mereka harus meregang nyawa.
Karena persediaan sudah benar-benar menipis. Odysseus memerintahkan mereka untuk berbalik arah, kembali ke pulau itu namun dari sisi yang lain. Eurylochus yang baru saja melihat teman-temannya dimakan para raksasa menolak, tapi Odysseus bersikeras. Tidak mungkin bertahan tanpa cadangan makanan. Dan mereka pun mematuhi perintah tersebut setelah melihat ada asap dari kejauhan.
Eurylochus menyuruh Odysseus untuk berjaga saja di pantai, sementara ia dan seluruh kru naik mendatangi asap itu. Dari situlah kesialan selanjutnya. Eurylochus dkk yang memasuki kediaman penyihir Circe, diguna-guna dengan masakannya. Mereka berubah menjadi babi! Di sisi lain, Odysseus yang bertanya-tanya mengapa para kru tak kunjung kembali pun menyusul mereka. Melihat ternak babi, dia tak sedikit pun menaruh curiga, hingga dilihatnya cincin Eurylochus di atas meja makan. Tersadar, Odysseus mengancam akan membunuh gagak peliharaan Circe —yang ternyata adalah kakaknya— jika tak mengembalikan wujud para krunya. Akhirnya para kru dikembalikan ke wujud manusianya setelah persuasi Odysseus berhasil.
Setelah mengenakan baju zirahnya mereka kembali ke kapal. Armada melanjutkan perjalanan menuju alam barzah. Di sana, dengan persembahan darah kambing, mereka bertemu Sinon dan Agamemnon yang telah tiada. Odysseus juga bertemu Tiresias, sang peramal buta yang menunjukkannya jalan pulang ke Ithaka.
Ada beberapa peringatan yang telah Tiresias berikan. Di antaranya, jangan mendengar nyanyian Siren dan jangan memakan ternak sapi Helios di pulau Thrinakia. Karena para kru tidak mentaati perintah Odysseus dan tak lagi mengindahkan pantangan-pantangan yang dia berikan, entah sudah berapa dewa-dewi yang murka kepada mereka sehingga kapal dan kru terakhirnya pun hancur lebur tersapu badai, menyisakan dirinya saja yang terdampar di pulau Calypso.
***
Sedikit demi sedikit, ingatan Odysseus pun kembali. Rangkaian peristiwa setelah kemenangan di Troya pun mulai tersusun dalam memorinya. Calypso, yang jatuh cinta kepada Odysseus, berupaya membuatnya lupa akan rumah dan keluarga di Ithaka melalui sihir teratai. Setiap malam, Calypso menyuapinya bunga teratai agar ia lupa dengan jati dirinya dan memilih menetap dengannya dalam keabadian (immortality). Namun, setelah 7 tahun melihat kegigihan Odysseus yang berusaha menyusun kembali kepingan ingatannya dan mengumpulkan puing-puing kapalnya demi menemukan jalan pulang, Calypso akhirnya tak punya pilihan lain selain membantu Odysseus kembali ke Ithaka.
***
Setelah sekian lamanya tertidur di atas rakitnya, Odysseus terbangun di pesisir. Setelah melihat sekeliling dan menemukan kastil di atas bukit, ia menyadari bahwa ia telah sampai di Ithaka. Ia segera menemui Eumaeus, pelayan setianya yang telah menunggunya kembali. Di alam barzah, Agamemnon telah berpesan kepada Odysseus untuk merahasiakan identitasnya saat kembali, dengan menyamar menjadi orang biasa untuk menguji kesetiaan orang-orang di istana. Maka, saat bertemu pelayan setianya, ia mengaku sebagai salah satu prajurit Odysseus saat di Troya.
Malam itu, dengan menyamar sebagai pengemis, Odysseus memasuki ruang jamuan makan malam. Dilihatnya di depan pintu istana, Argus —anjing pemburunya yang setia— tergeletak lemas karena usia. Argus yang mengenali tuannya meski bertahun-tahun menghilang, hanya bisa menggerak-gerakkan ekornya —salah satu tanda anjing merasa kegirangan. Dengan sentuhan terakhir dari sang majikan, Argus pun menghembuskan napas terakhir. Melihat hal itu, Telemachus —anak Odysseus— segera menyadari bahwa pengemis itu adalah ayahnya!
Keesokan harinya, Penelope membuat sebuah sayembara: barangsiapa bisa memasang busur panah dan menembakkan panah menembus 12 kepala kapak yang disusun segaris, dia akan dinikahi Penelope. Semua peminang pun gagal. Dan di situ Odysseus menunjukkan jati dirinya. Ia yang mengenal busur panahnya sendiri tentu bisa memasang talinya biarpun 20 tahun telah berlalu, dan dia pun berhasil menembakkan panah dalam garis lurus tanpa menyenggol satu pun kapak. Odysseus telah kembali!
***
Ketika sebuah epos klasik mendapat sentuhan tangan Nolan
Menerjemahkan epos sebesar The Odyssey ke dalam bentuk sinema tentu bukan tugas yang mudah. Namun, di tangan Nolan —dan budget 250 juta dolarnya, epos besar itu dapat menggambarkan bagaimana pergolakan Odysseus melawan kutukan dewa-dewi dalam perjalanan yang sarat makna.
Selama tiga jam, kita disuguhi dengan visual yang sangat megah dan sinematografi yang kolosal. Terlebih, saat disaksikan di layar IMAX. Beberapa CGI misalnya kehadiran Cyclops dan Siren juga tampak begitu nyata dan tidak berlebihan. Visualisasi atmosfer di dalam kuda troya yang sumpek dan pengap, hingga penggambaran alam barzah saat Odysseus bertemu para kompatriot yang telah tewas juga mampu Nolan terjemahkan dengan brilian.
Amarah Poseidon juga sangat terasa dengan visualisasi badainya. Tidak hanya mengandalkan trik "kamera goyang", badai di laut Mediterania yang gelap dan mencekam mampu membuat bulu kuduk para penonton merinding. Seakan-akan kita berada di atas kapal Odysseus dan mengalaminya sendiri.
Alur cerita yang non-linear juga sangat Nolanesque (khas Nolan). Ali-alih menceritakan langsung secara runut kejadian per kejadian dari masuknya kuda Troya hingga berhasil pulang kampung, keping-keping peristiwa diceritakan secara "cicil" dengan ingatan Odysseus yang kabur akibat sihir bunga teratai Calypso. Ini juga semakin mempertegas bahwa pada akhirnya cerita legenda atau mitologi —meskipun (mungkin) ada bagian faktual— tetap mengandung berbagai hal yang dilebih-lebihkan. ini ditunjukkan pula saat Sinon yang sudah siap mati ketika akan menyampaikan persembahan kuda Troya mengatakan kepada Odysseus. "Feel free to add anything." (Tambahkan bumbu-bumbu cerita)
Terakhir, momen re-entrance Odysseus yang epik dan tidak klise. Momen kembalinya raja Ithaka disusun dengan suspense cerita yang rapi. Ia tak langsung memberi tahu —bahkan kepada anak kandung dan pelayan setianya— akan jati dirinya, melainkan dengan petunjuk-petunjuk kecil. Argus yang baru akan "berpulang" setelah sentuhan terakhir tuannya, luka di kaki yang hanya dikenali oleh Eurikleia, hingga tantangan busur panah dan pin Athena pemberian Penelope yang selalu ia bawa ke mana pun.
The Odyssey versi Christopher Nolan pada akhirnya tak hanya menceritakan sebuah perjalanan belaka —Odysseia (Ὀδύσσεια) dalam bahasa Yunani berarti perjalanan. Di sini, Nolan berhasil menggambarkan kesombongan manusia yang menentang dewa-dewi dan harga yang harus ia bayar. Terpisah bertahun-tahun dari keluarga dan kampung halaman, pertempuran melawan monster dan penyihir, hingga ancaman kehilangan jati diri akibat godaan keabadian. Tiga jam pun berlalu tanpa terasa.
***
Kesimpulan
Film ini masuk dalam daftar film yang wajib ditonton. Bila memungkinkan, tontonlah di layar besar IMAX —as Nolan intended, dan ambilah bangku yang se-dekat mungkin dengan tengah-tengah layar. Tapi, jangan terlalu dekat, nanti lehermu sakit!
Tangerang Selatan, 29 Juli 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar