![]() |
| Dokumentasi pribadi yang diambil di Stasiun Busan, Korea. |
Suatu hari pada bulan Juli atau Agustus 2009, di salah satu ruang kelas SMAN 1 Tanjunganom, seorang guru muda masuk dan memperkenalkan diri. "Nama saya David. Kalian panggil saya David-sensei, ya." Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan bahasa Jepang —melalui pelajaran muatan lokal (mulok).
Dari situ pengetahuan saya berkembang dari sebelumnya hanya tahu "arigato" saja. Saya mulai belajar hiragana dan katakana, pola-pola kalimat bahasa Jepang sederhana, saya jadi tahu bahwa orang Jepang menyebut negara mereka sendiri Nihon (Nippon adalah pengucapan lawas). Pelajaran muatan lokal itu semakin memperkuat rasa ingin tahu saya untuk mempelajari lebih lanjut baik bahasa Jepang maupun negara dan budaya Jepang secara umum.
Saking tertariknya dengan pelajaran bahasa Jepang, saya sampai minta kepada orang tua untuk dikursuskan bahasa Jepang saat itu, tetapi tidak dikabulkan. Selain karena saya tinggal di kabupaten (yang tidak ada tempat kursus serupa), orang tua saya juga yakin bahwa mempelajari bahasa Jepang tidak ada kegunaannya di masa mendatang. Tidak lebih penting daripada bahasa Inggris.
***
Nyanyiang sang mentari
Pada pertengahan tahun 2010 — saat duduk di kelas 11 SMA, melalui laptop kakak saya yang saat itu sudah berkuliah, saya menemukan sebuah film berjudul タイヨウのうた (A Song to the Sun). Film ini bercerita tentang Kaoru Amane (diperankan YUI) yang menderita suatu penyakit kulit Xeroderma Pigmentosum (XP) —suatu kondisi langka yang menyebabkan penderitanya sangat sensitif terhadap sinar UV dari matahari. Karena penyakitnya tersebut, Kaoru hanya dapat beraktivitas di luar rumah pada malam hari. Pada pagi harinya, dia sering melihat ke luar jendela (yang sudah dilapisi filter anti UV), ada anak siswa SMA energik yang hobi berselancar yang bernama Kōji Fujishiro (Takashi Tsukamoto). Sinopsis cerita selengkapnya dapat dibaca di halaman Wikipedianya di sini, intinya sih cerita romansa remaja yang sangat cliché. Namun lebih dari plot film dan romansanya, dari film itu saya melihat betapa teraturnya Jepang, Kaoru yang aman-aman saja keluar rumah sendirian pada malam hari, dan keindahan kota Yokohama. Saya lantas berceletuk "Bu, aku ingin kuliah di Jepang."
Sejak saat itu, saya mulai mencari-cari bagaimana cara untuk bisa berkuliah di Jepang. Saya menemukan satu program bernama Beasiswa Monbukagakusho yang diberikan oleh pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/ MEXT). Saya yang saat itu masih kelas 11 dan belum memutuskan untuk berkuliah di mana, lantas mencari tahu lebih lanjut mengenai proses pendaftaran dan seleksinya.
Saya mencari informasi dari berbagai sumber mulai dari website resmi kedutaan besar Jepang sampai blog pribadi. Namun demikian, dari banyaknya sumber blog-blog pribadi ada satu blog yang paling berkesan dan selalu saya baca ulang setiap mau mendaftar Beasiswa Monbukagakusho; yaitu blog berjudul Carving Life with Letter milik Kak Reisha.
LOCK IN
Kalau anak-anak zaman sekarang memakai istilah ambis atau lock in untuk mencapai suatu tujuan (misalnya diterima di PTN impian), mungkin itu pulalah yang saya lakukan saat itu. Setelah mencari-cari informasi, saya menemukan bahwa proses seleksi Beasiswa Monbukagakusho S-1 terdiri dari tes tulis (Matematika, Fisika, Kimia); yang dilanjutkan dengan seleksi wawancara.
Saya mengunduh soal-soal tes tulis di tahun-tahun sebelumnya dan belajar dengan sangat amat ambis. Saking ambis-nya saat itu, saya belajar hingga tengah malam, sampai disuruh tidur oleh orang tua. Setiap malam saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk memecahkan soal-soal yang saya rasa tingkat kesulitannya jauh di atas pelajaran sekolah yang selama ini saya dapat. Bahkan mungkin lebih sulit daripada soal-soal SNMPTN.
Diterima STTN
Menjelang kenaikan kelas 12, tentu sangat konyol kalau saya hanya mempersiapkan diri untuk mendaftar seleksi beasiswa Monbukagakusho tanpa mendaftar kampus-kampus dalam negeri. Untuk itu, saya mulai mendaftar beberapa kampus seperti AKA Bogor dan STTN BATAN dengan jalur prestasi (nilai rapor), dan diterima dua-duanya.
Atas pertimbangan lokasi yang lebih dekat rumah (Yogyakarta vs Bogor), dan karena sudah malas mendaftar kampus-kampus lain lagi, saya akhirnya berkuliah di STTN. Saat itu saya merasa persiapan terlalu mepet untuk mengejar seleksi Monbukagakusho dan berpikir untuk mendaftar saat sudah menjadi mahasiswa saja. Istilahnya gap year atau apa itulah, intinya mengulan S-1 lagi.
Namun demikian, kesibukan kuliah membuat saya terlena juga sampai tak terasa sudah hampir lulus dari STTN saya belum juga membuka-buka lagi pendaftaran Beasiswa Monbukagakusho untuk tingkat S-1, jadi saya pikir sekalian saja saya mendaftar program S-2nya (atau Program Research Student).
Lagi-lagi, saya membuka blog Carving Life with Letters.
***
And the rest is history...
Setelah lulus D-4 pada bulan September 2016, saya harus menunggu hingga April 2017 untuk pendaftaran Monbukagakusho RS untuk keberangkatan 2018. Di sela-sela menganggur job hunting, saya mempersiapkan semuanya mulai dari sertifikat TOEFL (yang saat itu masih diterima) hingga research plan untuk program S-2. Saya lolos seleksi administratif dan diundang untuk mengikuti tes tulis di Surabaya pada sekitar bulan Juni. Saya ingat waktu itu pas bulan puasa jadi saya mengerjakan tes tulis dengan dahaga dan kantuk. Di saat ujian tulis itu, saya bertemu dengan seorang teman seperjuangan bernama Stanley yang masih berkontak hingga hari ini. Beberapa minggu setelahnya adalah pengumuman hasil tes tulis dan saya dinyatakan tidak lolos. Saya lantas merantau ke Karawang untuk bekerja, belajar bahasa Jepang, dan mempersiapkan seleksi Monbukagakusho RS periode berikutnya. Cerita selanjutnya sudah saya tuliskan di tulisan lain yang berjudul Bagaimana saya lulus seleksi Beasiswa LPDP.
Kesimpulan
Pertama-tama, saya harus berterima kasih kepada SMAN 1 Tanjunganom dan terkhusus kepada David-sensei yang telah memperkenalkan saya kepada bahasa Jepang. Entah kebetulan atau bukan, saya yang bersekolah di sebuah sekolah negeri di kota kecamatan kecil di sebuah kabupaten antah-berantah di Jawa Timur, bisa berkenalan dengan bahasa dan budaya Jepang melalui pelajaran muatan lokal saat itu. Saya yakin jika muatan lokal saat itu bahasa Mandarin, misalnya, saya tidak akan mencari tahu dan menemukan beasiswa Monbukagakusho, dan saya tidak akan terobsesi untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Jepang.
Saya yakin, di luar sana ada banyak Anas-Anas lain dari SMA-SMA Negeri di kota kecil lain yang secara kebetulan menemukan bahasa dan budaya lain selain bahasa Inggris dan menemukan inspirasi (atau obsesi) serupa AnasImron dari SMAN 1 Tanjunganom. Semangat untuk kita semua.
Tangerang Selatan, 19 Juli 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar