Inilah tahun 1872.
Dunia telah berkembang dengan begitu pesat. Berbagai penemuan baru selama beberapa dasawarsa terakhir telah mengubah wajah dunia menuju modernitas dengan laju yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mesin-mesin uap dengan efisiensi tinggi telah mengantarkan umat manusia menuju era revolusi industri, dan secara tak langsung juga menuju revolusi transportasi.
Perkembangan teknologi transportasi memungkinkan perpindahan (orang dan barang) jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Di darat, Kereta api mampu mengantarkanmu dengan kecepatan tinggi, dan mesin-mesin pendorongnya yang tak pernah lelah bisa menempuh jarak ratusan kilometer. Di lautan, kini orang tak harus bergantung kepada angin dan layar karena kapal-kapal uap bertenaga batu bara juga siap mengantarmu mengarungi luasnya samudra.
Satu artikel dari harian The Telegraph bahkan menyebutkan bahwa kini orang Inggris raya bisa bepergian keliling dunia dalam waktu kurang dari 3 bulan, lebih tepatnya 80 hari. Suatu hal yang sebelumnya bisa dikatakan mustahil karena perjalanan keliling dunia itu bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. The Telegraph menjelaskan rute perjalanan super cepat itu dimulai dari London ke Paris, lalu menempuh perjalanan darat dengan kereta menuju terusan Suez, lanjut dengan kapal menuju Mumbai, disambung kereta ke Kalkutta, kapal ke Singapura, lanjut ke Hongkong, lalu setelah mendarat di Yokohama dilanjutkan perjalanan laut yang panjang menuju San Fransisko, disambung dengan perjalanan darat via kereta api menuju ujung timur Amerika Serikat di New York, dan berakhir dengan pendaratan kembali di London.
Mari kita berkenalan dengan tokoh utama kita…
Phileas Fogg adalah seorang anggota dari Klub Reforma (Reform Club), suatu perkumpulan di London yang beranggotakan orang-orang kaya nan nyentrik dan gemar berjudi. Malam itu, sembari bermain mereka mendiskusikan artikel dari harian The Telegraph mengenai perjalanan keliling dunia itu.
"Tapi, itu hanya hipotesis belaka. Apabila ada satu saja keterlambatan, maka perjalanan itu akan terganggu. Sehingga perjalanan itu akan memakan waktu lebih banyak daripada yang diperkirakan." Andrew Stuart, teman Fogg dari Klub Reforma menyangsikan.
"Itu semua sudah diperkirakan." Phileas Fogg menimpali.
"Bagaimana dengan cuaca buruk?"
"Itu juga sudah diperhitungkan." Fogg masih sangat yakin.
Phileas Fogg yakin bahwa jika ia berangkat hari itu, Rabu, 2 Oktober 1872 dengan kereta pukul 20:45, ia akan kembali lagi ke London setelah berkeliling dunia 21 Desember 1872 tepat pukul 20:45 atau lebih awal.
Maka taruhan pun dibuat. Phileas Fogg bertaruh dua puluh ribu poundsterling apabila ia tidak dapat membuktikan bahwa perjalanan keliling dunia dalam waktu 80 hari itu memungkinkan, dan teman-temannya bersepakat akan memberikan dua kali lipat dari nilai itu bila memang terbukti sebaliknya.
Fogg pun segera pulang dari Klub dan menyuruh pembantunya asal Prancis, Passepartout untuk segera berkemas.
"Kita akan berkeliling dunia mulai malam ini." Fogg berseru kepada Passepartout
"Malam ini juga, Tuan?"
"Malam ini juga."
Jean Passepartout yang belum genap sehari bekerja di rumah Fogg pun merasa kaget. Entah apa tuannya pikirkan. Tapi dia tetap manut saja dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan keliling dunia itu. Setelah semua persiapan telah selesai, Phileas Fogg pun berpamitan kepada teman-temannya di Klub Perubahan lalu berangkat ke Paris dengan kereta api.
***
Seluruh Inggris raya pun gempar dengan pertaruhan itu. Orang-orang ikut bertaruh. Banyak yang menjagokan Phileas Fogg, tapi lebih banyak lagi yang bertaruh sebaliknya. Jangan-jangan ada badai Samudera Pasifik sehingga perjalanan akan tertunda, jangan-jangan Fogg akan bertemu segerombolan perampok ketika di India, dan berbagai jangan-jangan lain untuk memperkuat argumen bahwa Fogg akan gagal.
Di sisi lain pertaruhan dan perjalanan Fogg…
Selain taruhan gila Phileas Fogg, Inggris raya juga dihebohkan dengan perampokan bank yang mengakibatkan kerugian lima puluh ribu poundsterling. Detektif Fix ditugaskan untuk memburu pelakunya. Ia segera membuat asumsi. Perampok dengan uang sebanyak itu tidak mungkin tetap berkeliaran di London dan menunggu ditangkap. Ia pasti akan kabur sembari berkeliling dunia. Maka, Fix yang saat itu sedang berada di Terusan Suez menunggu Kapal Mongolia yang bertolak dari Brindisi menuju Bombay. Ia telah mengantongi ciri-ciri penjahatnya.
Fogg pun tiba di Terusan Suez
Detektif Fix yang sangat yakin bahwa sang perampok sedang menumpang di Kapal Mongolia, menanti dengan sabar. Setelah Mongolia berlabuh, Fix mengamati lekat-lekat di dermaga. Manakah di antara ratusan orang yang baru turun dari kapal yang merupakan perampoknya, pikirnya. Dan keberuntungannya ternyata berada di sisi Fix. Passepartout sekonyong-konyong datang sambil membawa paspor tuannya, bertanya kepada Fix di manakah kantor konsulat terdekat untuk dapat mengecap paspor Fogg itu, untuk bukti kepada teman-teman Fogg di London kelak bahwa ia benar-benar mengelilingi dunia melalui kota ini dan itu. Fix bertanya apakah itu untuk dirinya sendiri, sang pembantu mengatakan tidak. Tuannya sedang menunggu di dalam kapal dan tidak mau turun. Lalu Fix menunjukkan kantor konsulatnya.
Kapal Mongolia pun melanjutkan perjalanan ke Bombay, India. Kali ini Fix ikut naik, dengan harapan bahwa ketika mereka sudah sampai di India yang merupakan koloni Inggris raya, surat penangkapan dari London diterbitkan dan dia bisa segera menangkap sang perampok yang sudah di depan matanya itu.
Perjalanan terus berlanjut dengan berbagai intrik...
"Kucing-kucingan" antara Fix dan Fogg pun berlanjut. Passepartout dan tuannya tidak sedikit pun merasa sedang diikuti, dan Fix juga tidak segera mendapat surat perintah penangkapan itu. Perjalanan Fogg untuk memenangkan pertaruhan sempat mengalami beberapa kendala seperti jalur rel kereta api lintas India yang belum sepenuhnya selesai, kecolongan satu jadwal keberangkatan kapal uap, hingga perjalanan kereta api di Amerika yang sempat tertunda akibat kawanan bison yang melintas, dan berbagai kesialan-kesialan lain. Di sisi lain, Fix yang terus berusaha mencari momen yang pas untuk menangkap Fogg yang ia yakini sebagai perampok bank di London membuat cerita semakin seru dan menegangkan. Dalam perjalanan berkeliling dunia itu, Jean Passepartout juga semakin mengenal Monsieur Fogg lebih dari yang dia ketahui selama ini. Bahwa Fogg juga punya "hati" layaknya manusia, tidak hanya sebuah mesin yang serba matematis dan mekanis.
***
Around the World in 80 Days adalah salah satu kisah klasik yang wajib Anda baca. Selain disuguhkan dengan keseruan perjalanan itu sendiri, kita juga diperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi transportasi di masa itu, bagaimana orang eropa memandang dunia di luar pikiran eurosentris mereka.
Refleksi dengan hari ini
Tahun 1870an menandai puncak revolusi industri pertama di Inggris. Mesin-mesin uap berderu, laju produksi meningkat pesat. Dan, untuk menunjang perpindahan produk-produk industrialisasi itu (dan menunjang perpindahan para pekerja pabriknya), sehingga wajar kalau mode-mode transportasi dengan kecepatan tinggi pun bermunculan.
Saya sebagai pembaca modern sangat tertarik dengan bagaimana Verne menjelaskan modernitas dan kemajuan di era itu. Bagaimana telegraf dapat mengirimkan pesan ribuan kilometer dalam waktu sangat singkat, bagaimana berbagai hal dapat diproduksi secara massal, dan bagaimana manusia kini dapat berkeliling dunia hanya dalam 80 hari!
Hal-hal yang disebutkan itu tentu terasa biasa saja bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini. Hari ini, tak hanya pesan tertulis yang dapat terkirim dengan cepat, orang-orang yang terpisah benua pun dapat bertatap muka secara langsung dengan obrolan video. Dan kini, berkeliling dunia sudah bukan lagi perkara hari, tapi dapat dilakukan dalam hitungan jam saja!
Hari ini pula kita dimanjakan dengan berbagai generative AI seperti ChatGPT atau Gemini, sesuatu yang di era Alan Turing juga masih terasa begitu jauh. Bagaimana mungkin orang dapat berbincang dengan komputer? Hari ini, kecepatan penyebaran informasi juga jauh lebih cepat dengan peningkatan kecepatan internet dibarengi menurunnya tarif akses internet dan perangkatnya itu sendiri. Sehingga, tantangan hari ini berbeda, bukan lagi kecepatan penyebaran informasi, justru bagaimana cara kita menikmati hidup dengan lebih lambat di era dunia yang serba cepat.
Ada satu hal lagi yang menggelitik bagi saya ketika Jules Verne mendeskripsikan seperti apa pisang itu. Verne menyebutkan bahwa buah pisang itu mengenyangkan seperti roti dan lembut seperti krim manis. Di era sekarang, saya rasa tidak ada satu orang pun manusia modern di muka bumi ini yang tidak mengenal buah pisang. Namun, pada masa ketika "80 Days" ditulis, buah pisang hanya bisa ditemui di tempat-tempat beriklim tropis. Hal ini mengingatkan kita bagaimana orang-orang Eropa menafsirkan kembali bidak-bidak catur sehingga berbeda dari permainan aslinya "chaturanga" dari India. Dalam permainan aslinya di India, bidak-bidak catur terdiri dari raja, menteri, kuda atau kavaleri, gajah, kapal dan pion. Ketika permainan chaturanga masuk Eropa pada abad ke 9, orang-orang Eropa di masa itu tidak ada yang tahu dan pernah melihat wujud gajah. Ketika melihat bidak gajah (yang diwakili dengan bentuk gading) mereka pun tidak mengerti itu apa. Sehingga, mereka tafsirkan ulang sesuai dengan apa yang mereka alami dan lihat sehari-hari, raja tetap raja, menteri menjadi ratu (queen), kuda (kavaleri) menjadi kesatria (knight) karena mereka sehari-hari berkuda, lalu gajah yang diwakilkan dengan bentuk gading itu ditafsirkan ulang menjadi uskup (bishop) dengan bentuk bidak yang diwakili topi uskup (zuchetto), kapal menjadi benteng (rook), dan pion tetap pion.
Sebelum ngelantur lebih jauh, saya rasa benar kalau dikatakan bahwa sejarah itu berulang. Setelah membaca "80 Days" dan melihat ke belakang bagaimana orang-orang di masa itu membanggakan kemajuan di eranya, saya jadi terpikir bagaimana orang-orang di masa depan 100 tahun dari sekarang ketika membaca karya-karya sastra terutama bergenre fiksi ilmiah yang ditulis saat ini. Apakah berbagi teknologi yang kita bayangkan di hari ini dapat benar-benar terealisasikan di era mereka satu abad mendatang?
Tangerang Selatan, 16 Juli 2026.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar