Sebagai seorang warga kabupaten yang orang-orang harus googling dulu untuk memastikan di mana letaknya dalam peta pulau Jawa, saya merasa cukup beruntung untuk bisa mengenal komputer pada saat kelas 5 SD —sekitar tahun 2004. Kala itu, masih banyak tempat rental komputer dan kursus komputer —suatu hal yang terdengar janggal hari ini.
Saat saya masuk SMP pada tahun 2006, saya minta dibelikan komputer sendiri (alih-alih rental). Suatu barang mewah yang pemiliknya di kampung mungkin hanya keluarga saya saat itu. Saat itu saya belum mengenal spek, pokoknya Pentium III saja tahunya. Waktu itu saya juga belum mengenal internet, jadi "mainan" sehari-harinya kalau tidak Pinball, coret-coret gak jelas di Ms. Paint, atau gim-gim dari Game House (Feeding Frenzy menjadi yang paling favorit kala itu).
Di SMP, ada pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sebagai seorang anak berprivilese yang sudah mengenal komputer jauh-jauh hari sebelum teman sebaya kala itu, saya pun bisa mengikuti pelajaran lebih cepat daripada yang lain. Di pelajaran TIK SMP juga, saya mulai mengenal internet. It was a blast!
Ternyata isi komputer tidak hanya hal-hal repetitif seperti mencoret-coret di Microsoft Paint atau pekerjaan membosankan dengan rumus-rumus Excel. Internet menawarkan lebih dari itu. Di sana kita bisa bertukar surat secara instan dengan orang-orang sejauh apapun jarak mereka, membuat profil yang sangat menarik dan penuh animasi warna-warni di Friendster (jebakan umur), sampai membaca cerita-cerita hantu!
***
Pada tahun 2010-an saya mengenal Kambing Jantan. Agak telat, sih —namanya juga orang dusun— namun hal itu secara tidak langsung mengubah cara pandang saya terhadap internet. Di internet, kita tak hanya bisa menjadi konsumen, kita juga bisa memproduksi konten kita sendiri. Selain itu, banyak sumber menyebutkan bahwa kita juga bisa menghasilkan uang dari internet!
Maka, saya mulai jugalah menulis blog ala Kambing Jantan. Dengan bermodalkan laptop pemberian orang tua yang dilengkapi sebuah modem USB, saya menulis blog pertama saya di WordPress. Blog itu sudah tidak ada, tapi itulah pertama kalinya saya menulis di internet. Waktu itu tentu tidak terpikir untuk komersialisasi karena apa sih isi tulisan seorang remaja SMA?
Pada masa itu, saya juga mengenal aktivitas blog walking, yaitu ketika kita mengecek blog orang-orang dalam suatu komunitas bloggers dan saling bertukar komentar sehingga mereka akan mengunjungi blog kita juga. Sungguh menyenangkannya membaca tulisan-tulisan organic orang-orang. Tanpa rasa jaim, tanpa tedeng aling-aling. Mulai dari keseharian mereka, tips melakukan sesuatu, hingga ringkasan perjalanan ke luar kota (atau luar negeri).
Pada masa itu pula —dengan modem prabayar yang lemotnya nauzubillah— saya juga mulai mengenal YouTube dengan tagline legendarisnya "broadcast yourself". Banyak konten juga tercipta secara organic kala itu. Mulai dari humor sketsa, tutorial memasak, hingga vlog yang belakangan mulai populer juga.
Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang.
Sejak hadirnya AdSense dan monetisasi, sangat jarang kita bisa temui blog yang ditulis secara organic. Semua blogger punya pikiran sama. "Bagaimana membuat tulisan yang SEO friendly." Akhirnya ke-khasan pun hilang ditelan ombak komersialisasi. Tiada lagi tulisan tanpa rasa jaim dan tanpa tedeng aling-aling. Semua jadi terasa template. Tulisan mengenai catatan perjalanan pun berubah menjadi "5 Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Kota XYZ." Tulisan ringan mengenai hal-hal yang terjadi dalam seminggu terakhir berubah menjadi "Lima Kebiasaan Penting agar Hari-harimu Lebih Produktif!"
Begitu pula media lain, YouTube misalnya. Dulu, ketika Broadcast Yourself masih menjadi ruh dan jiwa dari website video sharing itu, banyak video terasa personal. Kini, semuanya jadi korporasi. "YouTube lebih dari TV" kini hanya menjadi TV kedua bagi kebanyakan orang. Isinya itu lagi itu lagi. Podcaster A mengundang podcaster B di channelnya, lalu berbalik podcaster B mengundang A di channelnya. Tiada lagi editan ngehe dari kamera dengan grafik pembunuhan. Tiada lagi jokes dan sketsa-sketsa cringe. Semuanya jadi seragam, jadi berstandard korporat, dan jiwa Broadcast Yourself yang bertahun-tahun dibangun pun perlahan hilang (secara harfiah juga).
Website microblog kesayangan kita semua pun —Twitter atau sekarang bernama X— menjadi tidak asik lagi sejak jerat monetisasi dan fenomena cenblue budak Elon merajalela. Sebagai sebuah wadah microblog, dulu Twitter menjadi tempat nyampah dan berkeluh kesah kita yang sangat asyik. Semenjak ada monetisasi dari Twitter bercentang biru, kue itu pun menghampiri. Hampir tidak ada lagi konten organik di sana. Semua orang hanya ingin mengejar impresi, memperbanyak klik, dan berharap "gajian" dari Elon Musk. Jadi konten twitter sekarang kebanyakan sok-sokan nanya (agar dijawab dan mendapat impresi dari replies), mencuri konten lain (terutama dari Threads), menulis konten dengan bantuan ChatGPT, dan yang paling menyebalkan tentu saja yang memancing kemarahan orang lain (rage baiting) dengan mengeluarkan statemen yang memicu.
Lantas, apakah monetisasi itu sendiri salah? Tentu tidak. Kan memang itu disediakan oleh sistem. Itu memang sudah terjadi "dari sananya". Namun, ketika semua sudut internet sudah diperbudak oleh algoritma, hanya mengejar klik dan impresi, posting harus SEO friendly, interaksi antar manusia pun turut dikorbankan.
Akhir kata, saya ingin blog pribadi ini tetap dalam khittahnya untuk tidak peduli dengan impresi, tidak harus SEO friendly, dan tetap dijalankan karena hobi, sebagai tempat berlatih menulis sekaligus mengabadikan tulisan. Karena —lagi-lagi— Verba volent, scripta manent (ucapan akan hilang, tapi tulisan menetap). Kalaupun suatu hari blog ini bisa termonetisasi —walaupun slim chance, ya— saya anggap itu bonus semata. Dan, saya harap akan tetap konsisten seperti itu.
Tangerang Selatan, 23 Juli 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar