Sabtu, 25 Juli 2026

Mengapa bahasa Inggris hanya punya satu kata untuk nasi?

Oleh Gary Kramer / Photo courtesy of USDA Natural Resources Conservation Service., Domain Publik, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=24771075

Apa bahasa Inggrisnya nasi? Rice. Apa bahasa Inggrisnya beras? Rice juga!

Tahukah kamu, bahwa bangsa-bangsa pemakan nasi umumnya punya istilah yang berbeda untuk beras dan nasi, sedangkan bangsa-bangsa yang makanan pokoknya selain nasi tidak membedakan keduanya?

Dalam perspektif linguistik, kita hanya membuat kata khusus untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita. Jika suatu benda atau fenomena sangat krusial dalam kehidupan, bahasa akan berkembang menjadi kosakata yang spesifik.

Masyarakat Indonesia sebagai pemakan nasi memiliki kosakata sangat beragam berdasarkan fase penanaman dan pengolahan: mulai dari padi (di sawah) → gabah (setelah dipanen) → beras (setelah disosoh) → nasi (setelah dimasak) → karak/aking (nasi kering/sisa). Di sisi lain, bahasa Inggris hanya mengenal satu kata dasar "rice"; dan untuk membedakan fase pengolahannya kita tambahkan deskripsi (kata penjelas), misalnya uncooked rice untuk beras dan cooked rice untuk nasi.

Sebaliknya, coba perhatikan bagaimana bahasa Inggris punya kata-kata yang sangat spesifik yang berkaitan dengan gandum: wheat, flour, dough, batter; atau kosakata untuk keju: cheddar, Gouda, brie, mozzarella.

Bahasa Eskimo/Inuit punya puluhan kata untuk menyebut jenis-jenis "salju" karena berkaitan dengan kehidupan mereka; sedangkan kita sebagai masyarakat tropis yang tak pernah melihat salju seumur hidup tidak perlu tahu kata-kata lain selain salju itu sendiri, dan (mungkin) es.

Dalam bahasa Jepang, ada perbedaan cara menghitung ikan "tuna" (maguro) mulai saat hidup sampai pada satu potong yang siap santap di atas piring. Potongan video dari drama Jepang 日本人の知らない日本語 berikut sangat apik menjelaskan hal itu.


Kita kembali ke hipotesis di atas, bahwa suatu kosakata ada dalam bahasa tertentu karena signifikansinya di lingkungan penutur bahasa tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk kata "adarusa", yaitu:

a.da.ru.sa


  • n Mu orang yang meminjam sesuatu (tentang uang atau barang), tetapi tidak ada kemauan untuk mengembalikan uang atau barang tersebut

Seberapa sering kita menemui orang dengan watak seperti itu sampai kata se-spesifik itu ada, digunakan, dan masuk entri KBBI?


Tangerang Selatan, 25 Juli 2026

Selamat berakhir pekan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar