Kalimat menyeramkan itu terdengar sangat natural dalam bahasa Indonesia. Dalam ungkapan itu, subjeknya adalah dompet itu sendiri. Seolah-olah dompet tersebut menghilang begitu saja. Dan sialnya, itu pernah terjadi pada saya.
Namun, kalau kita bandingkan dengan penutur bahasa Jepang, mereka akan bilang 財布をなくした (saifu wo nakushita) —yang artinya "Aku menghilangkan dompetku." Pun dalam bahasa Inggris, lebih natural untuk mengatakan "I lost my wallet!" Perhatikan bahwa subjek kalimat itu adalah "aku".
Catatan singkat: Dalam bahasa Jepang, subjek kalimat seringkali dapat dihilangkan jika sudah jelas siapa pelakuknya. Dalam kalimat 財布をなくした meski tidak mengandung kata ganti orang pertama (私 atau saya), pendengar dan pembicara sudah sama-sama mafhum bahwa yang dibicarakan adalah diri pembicara sendiri.
Terlihat, kan, pada suatu peristiwa atau kejadian yang sama —yaitu pembicara atau "aku" yang kehilangan dompet— bisa memiliki nuansa yang berbeda jika diungkapkan dengan bahasa lain. Hal ini menunjukkan akuntabilitas akan suatu aksi (atau dalam hal ini kesialan). Penutur bahasa Indonesia cenderung menafikan ke-aku-annya, berbeda dengan penutur bahasa lain —misalnya Jepang.
***
Saya masih ingat pesan dari guru bahasa Jepang saya beberapa waktu yang lalu.
"Di Jepang, mindset-nya kalau sesuatu itu terjadi di dalam kontrol kita, maka kita pakai tadoushi (kata kerja transitif), kalau di luar kontrol kita pakainya jidoushi (kata kerja intransitif)."
Makanya, orang Jepang tidak mengatakan "dompetku hilang" tapi "aku menghilangkan dompet." Dalam benak orang Jepang, kehilangan dompet terjadi dalam kontrol pembicara (aku), akibat keteledoran dan sebagainya. Berbeda halnya jika sesuatu hal itu di luar kontrol pembicara, misalnya kepala pusing. Orang Jepang mengatakan 頭が痛い (atama ga itai) "kepalaku sakit" atau 頭痛がします (zutsuu ga shimasu) "aku pusing." —atau harfiahnya "terjadi sakit kepala" —perhatikan bahwa pelaku atau subjeknya bukan lagi "aku".
***
![]() |
| Slide presentasi pada training internal IBM tahun 1979 |
Pada tahun 1979, IBM melakukan sebuah training internal untuk pegawai mereka. Salah satu slide presentasi waktu itu adalah gambar di atas. Seperti halnya komputer yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas suatu keputusan, begitu pula dompet yang tidak bisa menghilang dengan sendirinya.
Cara berpikir ini sama dengan pola dalam bahasa Jepang tadi. Benda mati tidak bisa disalahkan atas hal-hal yang terjadi dalam kendali kita. Kitalah sebagai manusia yang seharusnya bertanggung jawab. Hal ini dapat kita jadikan refleksi, apakah bahasa Indonesia yang cenderung memakai pola kalimat pasif turut andil dalam pembentukan masyarakat dan peradaban kita hari ini?
Ayo, bagikan pendapatmu di komentar.
Tangerang Selatan, 22 Juli 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar