Kamis, 30 Juli 2026

Penjelasan fenomena "bediding" di pulau Jawa


Masyarakat Jawa pada pertengahan tahun seperti ini pasti familiar dengan fenomena "bediding" sebagaimana gambar broadcast WhatsApp di atas. "Bediding" adalah penurunan suhu yang begitu ekstrem pada musim kemarau sehingga suhu siang dan malam terasa begitu kontras. Saking dinginnya, bahkan di dataran tinggi pulau Jawa seperti Dieng atau Bromo suhu malam hari bisa sampai drop di bawah 0°C dan membentuk embun upas (kristal es).

Lantas, mengapa di saat musim kemarau yang siang hari panasnya sangat ora umum ini, pagi dan malam harinya bisa terasa begitu dingin? 

Jawaban singkatnya adalah: angin muson timur.


Angin monsun Australia atau angin muson timur

Pada bulan Juni hingga Agustus —saat belahan bumi utara sedang panas-panasnya— Australia justru sedang mengalami puncak musim dingin. Angin kering dan dingin yang bertiup dari daratan Australia —yang sebagian besarnya merupakan padang gurun— melewati pulau Jawa sehingga terjadilah musim kemarau.

Angin muson tersebut mengakibatkan penurunan kelembapan udara dan minimnya pembentukan awan, sehingga hujan menjadi lebih jarang dibandingkan pada musim hujan (you don't say?). Tanpa awan yang yang berfungsi sebagai "selimut" penahan panas, serta udara yang kering, kalor (bahang) yang terserap di permukaan bumi sepanjang siang hari pun lebih cepat juga terbebas ke angkasa pada malam hari. Proses pelepasan kalor ini disebut juga radiational cooling atau pendinginan radiatif.

Empun Upas Dieng

Kombinasi itu: udara dingin kering dari benua Australia, kelembapan udara yang rendah, serta minimnya awan menyebabkan penurunan suhu ekstrem pada malam hari, meski suhu udara pada siang harinya sangat cepat mengeringkan jemuran (dan menggosongkan kulit).



Tangerang Selatan, 20 Juli 2026




Tidak ada komentar:

Posting Komentar