Senin, 06 April 2020

Membaca Ulang Life of Pi Karya Yann Martel


"Buku yang bisa ku baca berulang-ulang, dengan sudut pandang baru dan pengertian baru setiap kalinya." - Life of Pi, Bab 73
beberapa hari yang lalu, di tengah kebosanan akibat gerakan #stayhome atau #dirumahaja akibat pandemi sars-cov-2 atau covid-19 saya membuka rak buku dan menemukan novel yang telah saya baca beberapa tahun yang lalu. novel karya yann martel yang menurut salah satu tokoh di dalamnya mengandung kisah yang akan membuat anda percaya kepada tuhan.

sejujurnya, pertama kali membacanya saya tak menemukan efek "menemukan tuhan" tersebut, tapi rupanya dengan membacanya kembali hal itu disampaikan dengan begitu halus, subtle, dan implisit. review novel tersebut telah saya tulis beberapa tahun silam (ya saat pertama kali membacanya itu), dan di tulisan ini akan saya coba sampaikan apa yang saya dapatkan pada pembacaan yang kedua ini. sebuah kisah petualangan pi yang terombang-ambing di tengah samudera pasifik di atas sekoci dengan seekor harimau benggala (panthera tigris bengalensis) berbobot 225 kg.

Rabu, 22 Januari 2020

Menderita Bersama MULTATULI di Dunia Max Havelaar

"kisah yang membunuh kolonialisme." begitu pesan pramoedya ananta toer yang tertulis di halaman sampulnya. max havelaar adalah cerita mengenai ketidakadilan di  hindia belanda (khususnya di daerah lebak, banten) selama kurun waktu pertengahan abad ke sembilan belas. max havelaar ditulis oleh multatuli, nama pena eduard douwess dekker (yang berasal dari bahasa latin multa tulī, yang berarti "aku telah banyak menderita"). kisah ini dituliskan dengan teknik multi-layer yang akan membuat pembaca bingung, namun pesan yang disampaikannya begitu tajam dan menusuk pemerintah kolonial mengenai apa yang terjadi di tanah jajahannya ribuan kilometer di seberang benua yang berlainan. buku ini awalnya ditulis dalam bahasa belanda namun telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. hingga hari ini max havelaar menjadi buku bacaan wajib bagi siswa sekolah di belanda. bahkan telah dibuat museum multatuli di amsterdam (dan di rangkasbitung).

Kamis, 16 Januari 2020

Past Perfect: What for?


ada enam belas macam kalimat penanda waktu (tenses) dalam bahasa inggris, dibandingkan dengan bahasa indonesia yang... hanya ada satu macam. orang inggris membedakan antara i eat, i ate, i am eating, i will eat, dll. sedangkan hanya ada satu ungkapan padanannya dalam bahasa indonesia: saya makan. jadi lebih mending mana antara bahasa indonesia dan inggris?
tergantung. dalam hal grammatika, mungkin bahasa indonesia lebih mudah dan sederhana. namun dalam hal ketepatan waktu kapan suatu peristiwa terjadi, bahasa inggris bisa lebih baik (dan tepat) membedakan apakah suatu hal telah terjadi, akan terjadi, atau sedang terjadi tanpa perlu dengan spesifik menyebutkan kapan terjadinya.

past perfect tense adalah salah satu dari ke-16 tenses yang, barangkali semua orang sudah mengenal syntax atau susunan kalimatnya, namun belum tahu bagaimana penggunaannya.
rumus past perfect tense adalah:
subject + had + past participle (perfect verb/verb-3).

Jumat, 10 Januari 2020

Catatan di Awal 2020



kita telah memasuki dekade baru. seperlima abad ke-21 telah terlewati. banyak pelajaran telah saya dapat dalam kurun waktu 3 tahun setelah lulus sarjana sains terapan dari sttn yogyakarta, utamanya pelajaran mengenai kegagalan, kehilangan, menerima kenyataan, dan bagaimana mengelola ekspektasi untuk meminimalisasi kekecewaan.