Salah satu pelajaran yang masih saya ingat dari guru SD saya dulu adalah cara mengetahui jumlah hari pada bulan Januari, Februari, dan seterusnya. Caranya adalah dengan mengepalkan tangan kiri, lalu jari telunjuk kanan menghitung dari ujung: tonjolan berarti 31 hari, dan cekungan berarti 30 hari; kecuali Februari —28 atau 29 hari. But, why?
Tahun baru di bulan Maret
Tahukah kamu, dulu bangsa Romawi Kuno membuka tahun dengan bulan Maret? Maret berasal dari nama Mars —dewa perang sekaligus dewa pertanian dalam mitologi Romawi. Pada bulan Maret (bulannya Mars), salju mulai mencair. Ini menjadi saat yang ideal untuk memulai pertanian dan peperangan. Karena bangsa Romawi kala itu menggunakan kalender bukan hanya untuk penunjuk waktu tetapi juga sebagai penanda kapan mulai bertani dan berperang, musim dingin saat itu dianggap sebagai "masa kosong" yang tidak perlu masuk dalam kalender dan tidak perlu dinamai juga.
Dengan pengetahuan bahasa Latin yang terbatas, kita pun bisa menyimpulkan bahwa September, Oktober, November, dan Desember itu pastilah berarti bulan ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh. Memang begitulah kalender di masa itu, hanya terdiri dari 10 bulan (304 hari).
Lalu, sekitar abad ke-8 SM, Raja Numa Pompilius yang merasa "janggal" pun menamai masa kosong pada musim dingin itu: Januari dan Februari. Bulan Januari yang diambil dari nama Janus —dewa permulaan dalam mitologi Romawi— otomatis menjadi pembuka tahun, dan nama-nama bulan yang sudah kadung melekat pun bergeser hingga saat ini. September yang seharusnya bulan ketujuh menjadi kesembilan, dan seterusnya hingga Desember menjadi bulan kedua belas.
Bulan Februari sendiri diambil dari kata Februa, yaitu sebuah ritual penyucian diri dan pembersihan dosa orang-orang di kala itu sebelum memasuki musim semi. Lalu, kita kembali ke pertanyaan di awal: kenapa Februari hanya 28 hari?
Bangsa Romawi Kuno punya kepercayaan unik, bahwa angka genap membawa nasib buruk. Oleh karena itu, Raja Numa mengatur agar setiap bulan berisi 29 atau 31 hari. Karena kalender yang mereka gunakan waktu itu adalah kalender bulan (qomariyah) —yang siklus tahunannya berisi 355 hari— secara matematis, harus ada satu bulan yang jumlah harinya genap. Maka, dipilihlah bulan Februari sebagai bulan penyucian dan penebusan dosa untuk diisi dengan "angka sial" 28 hari. Tradisi itu dipertahankan hingga hari ini.
Peralihan ke kalender matahari
Julius Caesar pada 45 SM merombak total sistem penanggalan dari sistem penanggalan berbasis bulan (qomariyah) ke basis matahari (syamsiyah), setelah "studi banding" ke Mesir dan berkonsultasi dengan astronom Sosigenes.
Sosigenes menyempurnakan kalender syamsiyah Mesir dengan menambahkan sistem tahun kabisat. Ini dilakukan untuk mengakomodasi fakta bahwa satu tahun tidaklah tepat 365 hari, melainkan 365,25 hari. Agar ekstra seperempat hari tersebut tidak menggeser perhitungan musim dan mencegah kerumitan (bagaimana cara menghitung seperempat hari dalam keseharian dan kalender?), maka ditambahkanlah satu hari setiap empat tahun sekali.
Untuk "menambal" jumlah kekurangan hari setelah peralihan sistem itu, jumlah hari dalam tiap-tiap bulan pun diubah dari 29 dan 31 menjadi 30 dan 31 seperti yang kita kenal sekarang; dengan tetap "menganaktirikan" bulan Februari yang secara default berisi 28 hari, kecuali pada tahun kabisat 29 hari.
Julius? Ada kaitannya dengan bulan Juli?
Tepat sekali. Pada 44 SM —tak lama setelah Julius Caesar wafat ditikam— Senat Romawi menyisipkan nama sang kaisar ke tengah-tengah kalender sebagai bentuk penghormatan. Bulan kelahiran sang kaisar, Quintilis —yang berarti bulan kelima dalam sistem lama 10 bulan, atau bulan ketujuh dalam sistem 12 bulan — resmi diubah menjadi bulan Juli.
Begitu juga dengan penerusnya, Augustus. Tak hanya meneruskan takhta kekaisaran setelah mangkatnya Julius dan kekosongan kekuasaan di Romawi selama 13 tahun perang saudara, ia juga turut mengabadikan namanya sendiri dalam kalender setelah bulan Juli, menggantikan bulan Sextilis —yang berarti bulan keenam dalam sistem lama, atau bulan kedelapan dalam sistem baru. Berbeda dengan nama bulan Juli yang disesuaikan dengan bulan kelahiran Julius Caesar, Agustus memilih menggantikan nama bulan Sextilis untuk merayakan kemenangan militer besarnya pada bulan itu.
Meski Juli dan Agustus terabadikan di kalender hingga hari ini, ada beberapa penguasa Romawi lain yang berusaha memasukkan nama mereka atau orang terdekat mereka, namun tidak berhasil. Mereka gagal masuk ke dalam kalender karena ketidaksukaan publik, sehingga Senat Romawi mengeluarkan dekrit damnatio memoriae (pengutukan ingatan), sehingga nama-nama bulan dalam setahun tetap bertahan hingga yang kita kenal hari ini.
Penutup: kalender kita hari ini
Untuk memastikan perubahan musim yang lebih akurat, pada tahun 1582 Paus Gregorius XIII merombak kalender Julian. Pada tanggal 4 Oktober 1582, kalender langsung melompat ke tanggal 15 Oktober 1582 (cek kalender di HP-mu). Sistem penanggalan yang baru ini —kalender Gregorian— mengubah rumus penentuan tahun kabisat yang lebih mutakhir dan lebih akurat, sehingga perhitungan musim tidak lagi bergeser hingga ribuan tahun ke depan.
Sistem penanggalan Gregorian ini kemudian dibawa oleh negara-negara Eropa ke wilayah koloni mereka di berbagai penjuru dunia, sehingga akhirnya menjadi standar penanggalan internasional yang kita kenal dan gunakan bersama hingga hari ini.
Fun fact: Di saat seluruh dunia hari ini menggunakan kalender Gregorian, beberapa Gereja Ortodoks di Eropa masih menggunakan kalender Julian sebagai patokan hari besar keagamaan. Makanya, orang Rusia merayakan Hari Natal pada tanggal 7 Januari—yang bertepatan dengan tanggal 25 Desember di kalender Julian.
Tangerang Selatan, 2 Agustus 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar