![]() |
| Suasana di pelaminan pernikahan seorang teman batak (+ kristen) |
"There is a first time for everything."
Ada banyak hal yang baru bagi kita, termasuk menghadiri resepsi pernikahan batak kristen. Pada hari Sabtu, 4 Juli 2026 (sebulan yang lalu), saya menghadiri acara pernikahan Andreas, seorang teman kantor yang kini bertugas di kantor pusat BRIN (Thamrin). Sebagai seorang Jawa yang dibesarkan di keluarga muslim, tentu ini menjadi pengalaman yang menarik.
Menurut undangan, resepsi pernikahan dimulai pukul 12 siang, di Gedung Sopo Marpingkir, Jakarta Timur. Pagi-pagi sekitar jam 10 saya bersiap-siap, mengenakan kemeja putih dan blazer abu, dan berangkat menuju Stasiun Rawa Buntu. Perjalanan kereta sampai Stasiun Cakung membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Saya membawa buku Reset Indonesia dan membacanya di sepanjang perjalanan KRL.
Sekitar pukul 12 saya tiba di tempat resepsi. Lokasinya tak terlalu jauh dari Stasiun Cakung, namun dengan cuaca dan matahari yang tepat di atas kepala, alih-alih berjalan kaki ke lokasi, saya memilih naik Grab saja.
Saat pertama kali tiba, ada dua macam "daftar hadir", parboru dan paranak. Saya yang tak tahu (dan sok tahu), bukannya nanya dulu tapi langsung mengisi nama di parboru. Eh ternyata salah, karena itu adalah khusus untuk keluarga mempelai wanita; paranak untuk keluarga mempelai pria.
***
Karena saya lingak-linguk sendiri sembari menunggu seorang teman (Andru dan istrinya) —yang berangkat dari Tangerang dengan mobil— saya mendengar nyanyi-nyanyian batak dan mengamati prosesi adat yang ternyata panjangnya bukan main. Saya menghubungi Andru.
"Ndru, buruan. Aku gak kenal siapa-siapa di sini."
Setelah sekitar satu jam menunggu, Andru pun tiba di lokasi. Dia mengisi "daftar hadir" di meja bertanda paranak dan masuk ke gedung resepsi.
Kami mengantre untuk bersalaman dengan mempelai dan berfoto. Berbeda dengan pernikahan adat Jawa yang selama ini saya hadiri (dan alami sendiri), tak hanya kedua orang tua dari masing-masing mempelai yang hadir di atas pelaminan, ternyata om-om dan tante-tante juga! Rame banget pokoknya.
Kami bersalam-salaman, memberi ucapan selamat, dan berfoto bersama...
Setelah bersalam-salaman dan turun dari pelaminan, kami menuju ke prasmanan yang ada di lantai 2. Ternyata eh ternyata, di pernikahan adat batak ada istilah resepsi "nasional", yang ditujukan untuk undangan di luar keluarga kedua mempelai. Jadi, Andru pun salah ketika tadi menuliskan nama di meja paranak.
Setelah menuliskan nama, kami menuju ke meja hidangan. Setelah makan, minum, dan sedikit berbincang dengan tamu lain yang kebetulan Andru kenal, kami pun pulang. Saya menumpang ke mobil Andru untuk menuju Stasiun Cakung sementara dia melanjutkan perjalanan...
Sebagai penutup, saya sarankan kepada teman-teman yang mungkin akan menghadiri prosesi pernikahan adat batak untuk pertama kalinya, cari tahu dulu seperti apa upacara di sana, alih-alih langsung datang dan tidak tahu apa-apa.
Tangerang Selatan, 4 Agustus 2026

.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar