| By NASA/SDO (AIA) - http://sdo.gsfc.nasa.gov/assets/img/browse/2010/08/19/20100819_003221_4096_0304.jpg, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=11348381 |
Pada tahun 1868, seorang astronom Prancis, Pierre Janssen, dan astronom Inggris, Norman Lockyer, menemukan satu unsur baru melalui pengamatan terhadap spektrum cahaya Matahari. Mereka yang mengira unsur itu hanya ada di matahari, lantas menamainya Helium —berdasarkan nama Helios, sang dewa Matahari.
Meskipun pada awalnya para ilmuwan mengira helium hanya ada di permukaan Helios, pada tahun 1882 Luigi Palmieri membuktikan keberadaan gas mulia paling ringan tersebut di Gunung Vesuvius dan William Ramsay berhasil mengisolasinya pada tahun 1895.
Teleskop memungkinkan pengamatan planet-planet jauh...
Kisah penemuan helium ini bukanlah pertama kalinya kimiawan menamai suatu unsur baru dengan nama benda angkasa. Kita kembali ke tahun 1781 ketika astronom Jerman-Inggris, William Herschel, berhasil membuktikan keberadaan planet Uranus. Uranus adalah planet pertama yang ditemukan dengan bantuan teleskop, sekaligus planet pertama yang penamaannya di luar pakem nomenklatur sebelumnya: Venus, Mars, Jupiter, Saturnus dinamai berdasarkan mitologi Romawi, sedangkan Uranus dari mitologi Yunani. Delapan tahun setelahnya, pada tahun 1789, Martin Heinrich Klaproth menemukan suatu unsur logam baru yang kemudian dinamai uranium untuk menghargai penemuan planet Uranus sewindu sebelumnya.
Catatan singkat: Herschel pada mulanya ingin menamai planet temuannya Georgium Sidus (Bintang George) untuk menghormati Raja George III. Namun, karena nama tersebut terlalu "Inggris" dan tidak selaras dengan nama planet-planet lain, astronom Jerman Johann Elert Bode mengusulkan nama Uranus tersebut, yang baru diterima secara umum pada pertengahan abad ke-19
Setelah penemuan Uranus, para astronom lain pun melakukan "perburuan" di langit malam. Hasilnya sungguh menakjubkan. Setelah ribuan tahun peradaban manusia hanya berhasil mencatat 5 planet yang terlihat dengan mata telanjang, kini dengan bantuan teleskop umat manusia berhasil menemukan 5 benda langit signifikan lain dalam jangka waktu kurang dari 200 tahun!
Dimulai dari penemuan "planet" Ceres pada tahun 1801 oleh astronom Italia, Giuseppe Piazzi. Dua tahun setelahnya, kimiawan Jöns Jakob Berzelius dan Wilhelm Hisinger yang menemukan suatu logam baru pun menamainya cerium, sesuai tradisi sebelumnya.
Sebentar, "planet" Ceres?
Ketika pertama kali Ceres ditemukan, para astronom belum punya "aturan baku" yang membedakan antara planet, planet katai (dwarf planet), dan asteroid. Nah, Ceres kala itu masuk dalam definisi planet —yang sudah dipakai sejak zaman klasik— yaitu benda bercahaya di langit malam yang keberadaannya berubah-ubah relatif terhadap bintang-bintang tetap. (bahasa Yunani "planetes" berarti pengelana).
Lanjut lagi, pada tanggal 28 Maret 1802, dengan bersenjatakan teleskop refraktor Dollond berukuran 5 kaki, Heinrich Wilhelm Olbers dari Jerman menemukan "planet" lain. Agar tetap konsisten dengan tata penamaan planet kala itu, dinamailah "planet" temuannya itu Pallas —dari Pallas Athena, sang dewi perang dan kebijaksanaan Yunani. Hanya setahun setelahnya, pada 1803, kimiawan Inggris William Hyde Wollaston mempublikasikan penemuan unsur barunya yang dinamakan palladium, salah satu logam bernilai tinggi karena berbagai kegunaannya.
Dan, jumlah "planet" pun melonjak tinggi
Teleskop yang semakin "kuat" tak hanya memungkinkan para astronom melihat benda-benda angkasa lebih jauh, tetapi juga memungkinkan mereka untuk melihat benda-benda kecil yang lebih dekat —yang selama ini luput dari pengamatan.
Setelah penemuan cerium dan paladium, pada 1804 Karl Ludwig Harding menemukan Juno dan 3 tahun setelahnya Olbers (penemu Pallas) menemukan Vesta. Nomenklatur dikembalikan ke tokoh-tokoh mitologi Romawi. Pada masa itu, para ilmuwan sudah mulai menyadari bahwa di antara Mars dan Jupiter, terdapat objek serupa dengan Juno dan Vesta itu. Ribuan bahkan puluhan ribu batu kecil yang bukan merupakan planet tunggal. Jadi, para kimiawan pun mulai kehilangan hype untuk menamai unsur-unsur baru dengan "bebatuan angkasa" yang ternyata sangat melimpah itu. Ibaratnya begini: sebongkah berlian bisa berharga, tapi koral di landasan rel kereta api kan biasa saja.
Pada pertengahan abad ke-19, objek-objek di antara Mars dan Jupiter itu kemudian secara baku disebut asteroid —dari bahasa Yunani Kuno aster yang berarti bintang, dan akhiran -oid yang berarti menyerupai.
Planet mayor kembali ditemukan!
Setelah "asteroid boom" yang terjadi selama beberapa dekade di kalangan astronom, pada 1843 John Couch Adams di Inggris secara matematis menemukan adanya gangguan orbit Uranus. Menurut hukum gravitasi Newton, jika benda sebesar Uranus mengalami gangguan orbital, berarti ada sebuah objek yang kira-kira punya massa sebesar itu juga di dekat orbitnya. Dari situlah hipotesis planet kedelapan mulai santer di kalangan astronom. Urbain Le Verrier dan John Couch Adams secara independen melakukan perhitungan selama kurun waktu 1845 dan 1846; dan pada tanggal 23 September 1846 Johann Gottfried Galle berhasil membuktikan keberadaan planet baru tersebut berdasarkan perhitungan Verrier dan Adams. Planet baru tersebut kemudian dinamai Neptunus. Maka, sesuai tradisi, penemuan planet mayor akan dipakai dalam penamaan unsur kimia baru. Namun, berbeda dengan penemuan yang sebelum-sebelumnya, unsur neptunium baru berhasil disintesis pada tahun 1940 oleh Edwin McMillan dan Philip Abelson di Universitas California, Berkeley —hampir satu abad setelah penemuan planetnya.
Fun fact: Neptunus adalah planet pertama yang keberadaannya dibuktikan secara matematis dulu sebelum pengamatan langsung.
Kita memasuki abad ke-20. Seorang astronom Amerika, Clyde Tombaugh, pada 18 Februari 1930 menemukan "planet ke-9" dari tata surya kita. Pluto yang kala itu masih dianggap sebagai planet, mengilhami penemuan/sintesis unsur plutonium oleh Glenn T. Seaborg, Edwin McMillan, Joseph Kennedy, dan Arthur Wahl satu dasawarsa setelah penemuan planetnya. Pada tahun 2006, Persatuan Astronomi Internasional, mencabut status keplanetan Pluto setelah penemuan benda angkasa yang hari ini kita panggil "Eris" oleh Michael E. Brown pada 2005. Namun, seperti halnya Ceres dan Pallas, untungnya unsur kimianya sudah dinamai.
Fun fact: sebagaimana Uranus, Neptunus, dan Pluto menempati orbit yang berurutan di atas langit sana, di tabel periodik, unsur uranium, neptunium, dan plutonium juga memiliki nomor atom yang berurutan!
Kembali ke pertanyaan, ke mana Saturnium?
Selama ribuan tahun, manusia telah mengenal lima planet klasik: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Pengetahuan tersebut jauh sebelum ilmu kimia modern dan tradisi penamaan unsur berdasarkan objek angkasa lahir pada abad ke-18. Penamaan unsur-unsur yang "baru" ditemukan mengikuti nama benda langit yang "baru" ditemukan juga tentu menjadi tidak relevan. Karena Saturnus bukan benda langit baru, jadi tidak ada alasan untuk kimiawan memberi nama unsur baru berdasarkan nama Saturnus, atau nama planet-planet klasik lain.
Tangerang Selatan, 1 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar