Seorang astronot harus bertahan hidup di luar angkasa, jutaan kilometer dari Bumi. Dengan bersenjatakan keahlian botaninya, Mark Watney seorang diri menaklukkan planet merah selama lebih dari setahun! Itulah premis utama The Martian yang saya saksikan di layar lebar sekitar sebelas tahun lalu.
Film The Martian (2015) diadaptasi dari novel fiksi ilmiah (sci-fi) karangan Andy Weir yang pertama kali terbit setahun sebelumnya. Bertahun-tahun setelah pertama kali menonton The Martian, saya membaca langsung dari "sumber primer", yaitu novelnya. Namun demikian, keinginan itu baru terlaksana setelah saya memiliki e-reader.
Akses lebih mudah dan murah via Amazon Kindle
Sejak saya memiliki unit Kindle Paperwhite sendiri, membaca novel-novel asli berbahasa Inggris jadi jauh lebih praktis. Hanya dengan satu klik, buku apa pun yang ada di perpustakaan (library) Amazon bisa langsung saya baca. Tidak harus pergi ke toko buku, atau menunggu berhari-hari sampai buku tiba di rumah ketika berbelanja secara daring. Ditambah lagi, banyak judul tidak tersedia di toko buku lokal —salah satunya novel The Martian ini.
Meskipun penerbit seperti Gramedia biasanya menerjemahkan novel-novel yang filmnya masuk box office, saya yang lebih tertarik untuk menelisik gaya penulisan asli Weir pun membelinya dari Amazon Kindle. Baiklah, mari kita mulai ulasannya.
The Martian
Novel dibuka dengan perkenalan tokoh. Mark Watney yang tergabung dalam misi Ares III berangkat ke planet merah bersama lima kru lainnya. Mereka punya peran vital masing-masing, mulai dari ahli kimia hingga spesialis sistem.
Pada Sol-6 (hari ke-6 di Mars), sebuah badai besar menerjang Acidalia Planitia —habitat kru Ares III— dan mengancam keberlangsungan misi. Kapten pun memutuskan untuk mengakhiri misi dan mengevakuasi seluruh kru untuk pulang ke Bumi. Sialnya, Mark tertinggal dari kru yang sudah masuk roket. Karena waktu peluncuran yang terbatas dan menganggap Mark telah gugur, keputusan pahit pun diambil: Mark ditinggalkan sendirian di planet merah yang dingin, jutaan kilometer dari rekan dan keluarganya.
***
Berita tentang badai di Acidalia Planitia pun sampailah ke Bumi. Pusat misi Ares III di Houston tak sengaja melihat panel-panel surya yang telah dibersihkan! Hal ini tidak mungkin karena badai baru saja menyerang beberapa hari sebelumnya. Jadi, ada kemungkinan bahwa Mark Watney masih hidup, sendirian, dengan persediaan makanan yang terbatas.
Namun, karena mengkhawatirkan kondisi psikologis kru Ares III yang sedang dalam perjalanan ke Bumi, Houston memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari mereka sembari fokus pada misi penyelamatan untuk Mark.
***
Di Habitat, Mark menyusun strategi. Seluruh sumber makanan diperiksa. Cara-cara komunikasi dengan Houston dipikirkan, dan di sela-sela itu, untuk menjaga dirinya agar tetap "waras", dia merekam dirinya sendiri dalam sebuah log diary dalam format video. Cerita pun berlanjut dengan rencana evakuasi dari Houston, cara Mark bertahan hidup di planet merah, hingga celetukan-celetukan Mark yang kadang-kadang di luar dugaan tapi lucu, misalnya ketika tiba-tiba ia berkata, "Bagaimana mungkin Aquaman yang punya kekuatan mengendalikan seluruh ikan itu bisa memanggil paus, padahal paus termasuk mamalia."
Dari novel ini saya belajar beberapa hal baru, misalnya, panjang sehari-semalam di Mars (1 Sol) tidaklah berbeda jauh dari Bumi, yaitu 24 jam 39 menit dan 35 detik, bahwa rover-rover yang pernah dikirim tidak terlalu jauh jaraknya satu sama lain, bahwa misi peluncuran ke sana pada umumnya dilakukan pada saat Mars retrograde (untuk menghemat penggunaan bahan bakar karena jarak yang lebih pendek), hingga pengetahuan bahwa Mars dan berbagai objek angkasa lainnya merupakan teritori Laut Internasional (International Waters) yang bukan merupakan wilayah negara manapun.
***
Project Hail Mary
Berkebalikan dengan The Martian yang saya saksikan adaptasi layar lebarnya dulu baru baca bukunya, saya membaca novel Project Hail Mary pada tahun penerbitannya (2021) dan harus menunggu beberapa tahun hingga keluar di layar lebar.
***
Kisah dibuka dengan seorang pria yang baru terbangun dari koma. Selama berhari-hari ia lupa akan jati dirinya sendiri, di mana ia berada, dan mengapa ia berada di sana. Melalui pengamatannya, ia pun menyimpulkan bahwa dirinya tidak sedang berada di Bumi, bahkan tidak di Tata Surya!
Sepotong demi sepotong ingatan Ryland Grace pun kembali. Bumi sedang dalam ambang bahaya, karena keberadaan jasad renik pemakan matahari! Mikroorganisme yang oleh para ilmuwan dinamai Astrophage (dari bahasa Yunani, astro: bintang; phagein: memakan) itu meredupkan Matahari sehingga kehidupan di Bumi hanya tinggal menghitung tahun saja untuk punah!
Pengamatan dari banyak astronom amatir di seluruh dunia menunjukkan bahwa di lingkungan bintang-bintang terdekat, Tau Ceti tidak meredup. Maka, dengan suatu cara pemilihan, PBB mengirimkan tiga orang dengan roket bertenaga Astrophage untuk terbang ke Tau Ceti —yang berjarak 12 tahun cahaya— dengan program koma terinduksi (induced coma) dan mereka dijadwalkan untuk terbangun dari koma itu pada saat tiba di sana.
***
Setelah sepenuhnya tersadar, Grace melihat bahwa dua orang krunya tidak tersadar dari koma. Mereka meninggal di perjalanan. Kosmonaut Ilyukhina dari Rusia dan Taikonaut Yao Li-Jie. Grace pun "memakamkan" mereka berdua di angkasa luar dan memberi penghormatan terakhir. Kini, ia benar-benar sendirian.
Di tengah kesendiriannya, muncul dari kejauhan sebuah objek asing yang dinamai Blip A oleh Pesawat Hail Mary. Blip A melemparkan sebuah objek lain yang dinamai Blip B. Grace menangkap Blip B, menelitinya di laboratorium, dan mendapati bahwa benda itu terbuat dari xenon! Inilah kontak pertama umat manusia dengan alien tingkat tinggi yang bisa membuat padatan dari unsur gas mulia.
Pesawat alien itu berukuran masif! Grace merasa takjub melihatnya dari kejauhan. Dan mereka pun terhubung dengan sebuah jembatan. Grace dan alien itu bertemu dengan sebuah sekat. Di situlah kontak pertama terjadi. Grace melihat alien itu bertubuh keras seperti batu dan menamainya Rocky. Kontras dengan sisi kapalnya yang terang dengan lampu, sisi kapal Rocky gelap gulita. Rocky "melihat" dengan suara (echolocation).
Rupanya Rocky berasal dari bintang Eridani yang juga mengalami permasalahan serupa dengan Matahari kita. Dari situlah pertemanan dimulai —misi yang sama untuk menyelamatkan dunia masing-masing.
Mereka menghabiskan beberapa saat untuk merekam kosakata dari bahasa mereka masing-masing dan pada akhirnya dapat berkomunikasi dengan sebuah alat penerjemah yang Grace program dari laptopnya. Keduanya pun pada akhirnya mampu berbicara satu sama lain dalam kalimat-kalimat yang lebih panjang dan bersama-sama mengarungi Tata Surya Tau Ceti untuk mencari solusi atas permasalahan jasa renik "pemakan bintang" itu.
***
Dalam Project Hail Mary, Weir mengeluarkan beberapa pernyataan yang cukup berani, di antaranya: matematika bukanlah ukuran kecerdasan (dialog Rocky ke Grace), percepatan gravitasi memengaruhi tingkat kecerdasan makhluk/hewan penghuni suatu planet, hingga kemungkinan adanya suatu sistem organisme yang tidak membutuhkan air untuk bertahan hidup.
Dengan latar waktu yang tidak lagi linear seperti The Martian, kita dibawa mengarungi ingatan Grace sepotong demi sepotong dan akhirnya bisa menyimpulkan bahwa keberangkatannya sama sekali bukan karena sifat heroiknya dan berbagai plot twist lain.
Adaptasi petualangan Grace dan Rocky ke layar lebar juga saya rasa cukup bisa memenuhi ekspektasi saya sebagai pembaca. Beberapa bab awal di novel saat Grace mulai terbangun dari koma hingga menyadari keberadaannya sendiri dipangkas cukup banyak, tetapi sama sekali tidak mengubah esensi cerita. Film yang tayang pada bulan April 2026 itu juga mampu menerjemahkan novel ke bahasa visual yang sangat apik, indah, dan futuristik. Bagi kalian yang belum membacanya, sangat saya sarankan untuk membaca novel ini, sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga kok.
***
Artemis
Setelah terdampar di planet merah dan melakukan perjalanan dengan kecepatan relativistik ke Tau Ceti, kini kita dibawa kembali ke kota pertama dan satu-satunya di bulan, Artemis. Meski novel ini terbit 4 tahun lebih awal daripada Project Hail Mary, saya justru baru membacanya di tahun ini.
Artemis adalah kota pertama dan satu-satunya di Bulan. Kota itu tidak berbasis pada badan antariksa besar dan "mapan" seperti NASA atau ESA, tetapi merupakan bagian dari Kenya Space Agency (KSA) yang berbasis di Nairobi. Dan, karena siklus rotasi bulan sama dengan periode revolusinya terhadap Bumi, maka dipakailah waktu Nairobi sebagai zona waktu di Artemis.
Sebagai kota pertama dan satu-satunya di Bulan, kota ini tak hanya berisi orang-orang penting dan kaya, tetapi juga memerlukan pekerja kerah biru untuk keberlangsungan kehidupan di sana. Perlu petugas kebersihan, petugas perawatan (maintenance) fasilitas, dan berbagai pekerjaan lain, termasuk kurir seperti yang dilakoni oleh sang protagonis, Jasmine "Jazz" Bashara.
Jazz telah tinggal di Artemis sejak usia kanak-kanak, sehingga sudah terbiasa dengan percepatan gravitasi, atmosfer, hingga berbagai jenis makanan dan minuman di sana. Selain pekerjaan halal sebagai kurir, Jazz juga terlibat dalam penyelundupan barang-barang ilegal demi menambah pundi-pundi slug-nya —"mata uang" Artemis disebut soft-landed gram (SLG) dan biasa disebut slug.
Kehidupan yang serba pas-pasan dan utang di mana-mana, memaksa Jazz untuk melakukan tindakan super ilegal dengan tawaran fantastis dari miliarder setempat. Namun, kesembronoannya dalam menerima pekerjaan haram tersebut ternyata tak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga memiliki efek domino yang panjang dalam keberlangsungan kehidupan di Artemis.
***
Berbeda dengan The Martian yang menceritakan tentang misi berawak (manned mission) pertama di Mars, terlebih lagi Project Hail Mary yang membawa Grace ke 12 tahun cahaya dan mengalami kontak pertama dengan kehidupan dari planet lain, Artemis menceritakan kota di Bulan. Artinya, kini manusia sudah tidak lagi "merintis" ke sana, kehidupan sudah settle selama beberapa tahun. Berbagai penyokong kehidupan telah tersedia. Reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik, fasilitas smelter mineral yang juga menjadi pemasok oksigen, sistem daur ulang air, dan sebagainya.
Masih dengan format hard sci-fi dan pembangunan dunia (world building) ala Andy Weir yang begitu kental, Artemis punya tema besar yang cukup berbeda dengan The Martian dan Project Hail Mary. The Martian adalah tentang cara seorang astronot bertahan hidup di planet asing, Project Hail Mary adalah tentang misi besar penyelamatan umat manusia dari kepunahan, dan Artemis sedikit melenceng ke arah thriller dan misteri. Jazz, yang menjalankan pekerjaan kotor untuk seorang miliarder korup di sana, tanpa sengaja membuka rahasia besar di kota kecil itu. Ia pun dipaksa berkenalan dengan berbagai kelompok kriminal, membuka sedikit demi sedikit rahasia kotor Artemis, hingga cerita ditutup dengan ending yang saya rasa cukup "menggantung", berbeda dengan The Martian dan Project Hail Mary yang memiliki penutup cerita yang lebih melegakan. Di bab terakhir Artemis, ada perasaan "mengganjal" seperti saat menonton setiap akhir episode Power Rangers. Pembaca diminta menginterpretasikan sendiri apa yang terjadi setelah misi ultimatum Jazz dkk.
Meskipun terbit lebih dulu daripada Project Hail Mary, Artemis (2017) belum diadaptasi ke layar lebar. Berbagai rumor menyatakan, kesulitan teknis mensimulasikan 1/6 gravitasi bumi menjadi permasalahan utamanya.
Tangerang Selatan, 19 Agustus 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar