Salah satu tema besar yang banyak diperbincangkan dalam ilmu Fisika Modern adalah waktu. Sejak pertengahan abad ke-20 hingga kini, waktu masih menjadi salah satu misteri alam semesta. Apakah waktu dan ruang itu saling terkait atau saling independen, apakah waktu bersifat relatif atau absolut, dan sebagainya.
Dalam dunia sastra, obsesi menembus waktu pun menjadi tema yang banyak dibahas. Tak terkecuali dalam sastra Jepang. Beberapa media Jepang yang pernah saya konsumsi membahas tentang fenomena itu. Kembali ke masa lalu, menyelamatkan seseorang yang dicintai, bertemu dengan orang yang dicintai untuk terakhir kalinya, dan sebagainya.
Kita mulai dari Your Name (君の名は。) yang merupakan film animasi Jepang paling favorit bagi saya. Di sana diceritakan pertemuan antara Taki dan Mitsuha yang merupakan siswa dan siswi SMA dari latar belakang yang luar biasa berbeda. Taki adalah siswa di kota metropolitan Tokyo dengan berbagai kesibukannya setelah sekolah dalam menjalani berbagai kerja paruh waktu untuk menambah uang jajannya. Di sisi lain, Mitsuha yang tinggal di sebuah kota kecil "Itomori" yang dikelilingi oleh pemandangan alam pengunungan dan danau yang masih sangat asri, jauh dari hiruk pikuk metropolis. Ia dan adiknya dibesarkan oleh seorang nenek biarawati Shinto yang menjadikan mereka sangat dekat dengan kegiatan di kuil.
Tanpa tahu sebabnya, mereka seringkali bertukar tubuh. Mitsuha menjadi Taki, dan sebaliknya. Setelah beberapa saat, mereka pun menyadari bahwa mereka tidak seumuran. Mitsuha 3 tahun lebih tua daripada Taki. Ketika Taki menjadi Mitsuha, ia menyelam ke masa 3 tahun yang lalu sebelum meteor jatuh ke Itomori. Sebaliknya ketika Mitsuha menjalani hidup sebagai Taki di Tokyo, dia maju 3 tahun (dalam perspektif waktunya), yaitu setelah meteor jatuh. Cerita berpusat pada meteor yang berasal dari pecahan komet Tiamat yang jatuh ke Danau Itomori. Kisah penuh makna tentang aliran waktu, takdir, dengan sedikit bumbu romansa remaja digambarkan dengan sangat baik oleh Shinkai dengan visual yang sangat memanjakan mata dan musik soundtrack yang memanjakan telinga.
Lalu, kita menyelam di dunia ajaib Toko Kelontong Namiya (ナミヤ雑貨店の奇蹟) yang merupakan novel karya Keigo Higashino dan juga sudah dialihmedia menjadi film dengan judul sama. Pada suatu malam, ada sekelompok maling yang hampir tertangkap oleh polisi lalu bersembunyilah mereka di sebuah bangunan yang sudah tak berpenghuni. Rupanya bangunan itu adalah bekas sebuah toko kelontong yang dimiliki oleh (yeah, you guessed it) Namiya. Saat toko kelontong ini masih ditinggali oleh sang tuan rumah, kakek Namiya seringkali menjadi tempat anak-anak di sekitar sana untuk meminta solusi dari permasalahan mereka. Anak-anak menuliskan sepucuk surat berisi permasalahannya lalu menyimpannya di kotak susu. Keesokan harinya, mereka akan mendapat balasan dari kakek Namiya di tempat yang sama.
Karena itulah, kotak solusi Namiya sering dipelesetkan menjadi nayami (悩み, yang berarti kegelisahan/kebingungan). Nah kita kembali ke kawanan pencuri. Rupanya, pada malam di mana pencuri itu menumpang di toko kelotong, terjadilah keajaiban sehingga mereka tanpa sadar telah bertukar surat dengan orang-orang dari masa lalu!
Kita berkenalan dengan Toshikazu Kawaguchi yang akan membawa kita ke kafe Funiculi Funicula dalam cerita コーヒーが冷めないうちに (Before the Coffee Gets Cold). Novel itu memberikan kita sebuah perenungan, "Bagaimana seandainya kita bisa pergi ke masa lalu, tapi tak bisa mengubah apa pun?" Lantas, kita pun dibuat bertanya kembali apa arti kembali ke masa lalu kalau tidak bisa mengubah apa yang terjadi pada masa kini. Bukankah obsesi orang-orang untuk mundur ke masa lalu adalah untuk mengubah kesialan atau kesedihan yang dialaminya hari ini?
Kita diajak berkenalan dengan Kazu Tokita yang merupakan salah seorang seorang pelayan di kafe Funiculi Funicula. Ia adalah salah satu dari orang yang mempunyai kekuatan untuk membawa pengunjung kafe ke masa lalu. Dengan berbagai syarat selain bahwa apapun yang terjadi saat kembali ke masa lalu itu tidak dapat mengubah kenyataan hari ini, juga aturan yang terpenting "Habiskan kopinya sebelum dingin."
Funiculi Funicula merupakan sebuah tetralogi novel yang berkutat pada orang-orang dengan permasalahan serupa. Orang-orang yang ingin kembali ke masa lalu. Setiap babnya kita akan disuguhi dengan kisah yang mengharukan dan pasti akan dibuat menangis olehnya. Novel yang pertama juga telah difilmkan dengan judul Cafe Funiculi Funicula.
Itu tadi adalah beberapa media Jepang bertemakan perjalanan menembus waktu yang saya sempat konsumsi. Ketiga karya ini mengajarkan kita akan satu hal: sedalam apa pun obsesi manusia untuk memutar waktu, esensi utama bukanlah mengubah masa lalu, melainkan bagaimana kita berdamai dan melanjutkan hidup di masa kini.
Tangerang Selatan, 23 Juni 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar