Minggu, 09 Agustus 2020

Hal-hal Kecil dalam Menekan Pandemi

entah sudah bulan ke berapa sejak pandemi covid-19 memasuki negeri ini dan mempengaruhi kehidupan kita secara umum. banyak hal telah berubah, dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. berbagai jargon, ajakan, dan istilah-istilah didengungkan di mana-mana. cuci tangan, pakai masker, jaga jarak.

beberapa bulan yang lalu, semuanya ditutup dalam rangka pembatasan sosial. hanya toko yang menjual kebutuhan esensial yang boleh dibuka (kebutuhan pokok, obat-obatan, dan alat-alat kesehatan). kita mengunci diri di dalam rumah, membatasi diri untuk keluar kecuali benar-benar perlu. saya masih ingat sekitar akhir maret, pemerintah mengeluarkan jargon "bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah." tetap di rumah dan hindari kerumunan orang.

banyak kontroversi terkait poin terakhir, lebih-lebih di kalangan agamawan. padahal otoritas atau instansi agama besar seperti MUI, NU, muhammadiyah, semuanya menganjurkan untuk beribadah di rumah, pun otoritas keagamaan lain.

ajakan untuk di rumah aja menjadi jargon di berbagai media, bahkan sampai dibuat hashtag khusus. #stayhome movement untuk hashtag internasional, di Indonesia hashtagnya #dirumahaja, di jepang #おうち時間 (yang berarti waktunya di rumah), dan berbagai hashtag lokal lain. saya pun kala itu melakukan hal kecil yang saya bisa, berupa memasang ajakan untuk tetap di rumah tersebut sebagai foto profil di berbagai media sosial yang saya pakai (twitter, instagram, whatsapp, telegram), saya juga mengubah display name dari berbagai akun media sosial tersebut dengan ajakan #stayhome. saya membuat twibbon sendiri, yang bentukannya seperti gambar berikut:

padahal fotonya itu pas di warkop (sebelum pandemi lho nongkrongnya)

setelah lumayan lama mengurung diri di rumah masing-masing, pemerintah lalu memberikan kelonggaran, agar ekonomi yang telah lumpuh selama beberapa bulan #dirumahaja kembali berjalan. beberapa kota dan provinsi mulai membuka diri. toko-toko, pusat perbelanjaan, kantor-kantor pemerintahan maupun swasta, dan tempat ibadah mulai diijinkan untuk kembali beroperasi, dengan satu tambahan jargon baru: patuhi protokol kesehatan, yang salah satu komponennya adalah #pakaimasker bila keluar rumah.

dengan perubahan jargon tersebut, saya pun mengubah isi ajakan di berbagai socmed dari yang tadinya #stayhome menjadi #wearmask, versi internasional dari jargon #pakaimasker. foto profil juga saya ubah sebagai berikut:

pakai masker!

saya sadar, bahwa platform saya tidaklah besar. barangkali tidak akan ada pengaruhnya apa-apa ke peradaban manusia secara umum. namun, sebisa mungkin saya gunakan platform saya yang tak seberapa ini untuk terus mengajak kepada orang-orang yang berinteraksi di media sosial untuk mematuhi berbagai anjuran dari para ahlinya, agar tujuan bersama yaitu pulihnya segala sesuatu menuju keadaan normal yang sesungguhnya (the real normal, not the new normal) bisa segera tercapai. saya sadar bahwa saya tak punya sedikit pun kapasitas untuk bicara di luar bidang saya, semisal biologi molekular, virologi, atau kedokteran. jadi ya kalau tidak ngerti apa-apa tentang bidang tersebut, setidaknya diam saja, atau kita amplifikasi pesan dari para ahlinya. bukankah ini semua demi kepentingan dan kebaikan kita juga pada akhirnya?


09/08/2020

penulisan tanggal di blog ini sepertinya tidak konsisten ya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar