Rabu, 30 Januari 2019

Gosho Aoyama atau Aoyama Gosho

daftar pustaka dengan mengacu harvard style

waktu sma, kita diajari penulisan daftar pustaka diawali dari nama belakang pengarang, diikuti tanda koma dan nama depannya. tapi, apakah selalu begitu? hmmm

hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. sebenarnya penulisan daftar pustaka (tergantung pakai style yang mana sih) umumnya diurutkan berdasarkan nama keluarga (family name atau surname) penulis. nah, karena dalam budaya jawa tidak dikenal sistem nama keluarga atau marga, maka cara termudah menjelaskan tentang hal ini adalah dengan membalik nama belakang dan nama depan pengarang. misalnya: anas imron menjadi imron, anas. padahal imron bukanlah marga saya karena memang saya tak punya marga.

dalam budaya anglo-saxon, nama keluarga memang letaknya di belakang. makanya disebut juga last name, sedangkan nama pribadi disebut given name atau first name. di negara-negara anglo-saxon tersebut, umumnya anak tidak dinamai aneh-aneh dan cenderung memakai nama orang-orang yang sudah ada. misalnya jones, william, james, dll. mungkin padanannya kalau di jawa ya nama-nama seperti suwito, joko, bambang, budi, dll. karena keumuman nama-nama anglo-saxon itulah, hampir bisa dipastikan bahwa seorang yang dijuluki bill nama panjangnya adalah william, jim untuk james, mike untuk michael, dll. di budaya anglo-saxon juga umum ditemui orang-orang yang menamai anaknya sesuai namanya sendiri, bisa karena tradisi atau tuk menghargai orang-orang di keluarganya (maka namanya dipakai lagi). contohnya adalah bill gates. si boss microsoft tersebut bernama lengkap william henry gates iii, angka romawi iii artinya generasi ketiga. jadi, namanya sendiri, nama ayahnya, sampai nama kakeknya sama persis. kalau di jawa hal itu aneh karena tidak ada budaya seperti itu dan akan menjadi rancu sendiri. misal nama ayahku moh. imron, trs aku dinamai moh. imron pula, lah pie? sedangkan di jawa tidak ada suffix senior (sr) dan junior (jr) tuk nama.

lain anglo-saxon lain pula asia timur, ambil contoh jepang. regulasi penamaan anak di jepang berkebalikan dengan negeri-negeri anglo-saxon. di jepang, marga ditulis terlebih dahulu baru nama pribadi. sehingga jika keluarga matsumoto (松本) yang terdiri dari pak matsumoto dan bu matsumoto punya anak perempuan dan misal anak tersebut dinamai ayumi, maka namanya akan menjadi matsumoto ayumi. nah, uniknya di jepang, karena nama anak dituliskan dalam huruf kanji, nama ayumi sendiri punya banyak sekali varian penulisan kanji dengan makna yang berbeda satu sama lain, misalnya: 歩 (berjalan, berproses), 鮎己 (diri sendiri), 明征魅 (cerah, menyenangkan), dll yang semuanya dibaca "ayumi". karena nama adalah doa, orang tua ayumi akan memilih mana kanji untuk nama anaknya tersebut yang paling sesuai dengan doa dan harapan kepadanya. ketika suatu saat matsumoto ayumi dari jepang menerbitkan suatu paper internasional atau berhasil mengarang manga yang tak hanya diterima di jepang tapi juga laris di seluruh dunia, maka namanya pun akan dibalik mengikuti format internasional "ayumi matsumoto" untuk penerbitan-penerbitan di luar jepang, tapi ya tetap tuk penulisan daftar pustaka dipakai nama yaitu "marga, nama pribadi" = "matsumoto, ayumi" yang dalam aturan penamaan jepang adalah "nama depan, nama belakang". hehehe, pelajaran sma tentang daftar pustaka tidak sepenuhnya benar, bukan?
lantas, kembali ke judul: apakah pengarang detective conan itu gosho aoyama atau aoyama gosho? tergantung. di jepang dia dikenal sebagai aoyama gosho, tapi di dunia internasional, dia adalah gosho aoyama.
karena itu pulalah, kalau kita nonton naruto, di original dubbingnya dia bilang:
うずまきナルトだってばよ!(uzumaki naruto dattebayo, aku adalah uzumaki naruto)
tapi di dubbing englishnya dia bilang:
i am naruto uzumaki (aku adalah naruto uzumaki)

reformasi meiji adalah sebuah titik balik kemajuan dan modernisasi di jepang. setelah di era sebelumnya jepang yang sangat tertutup dengan dunia luar dan segala budaya luar, jepang mulai merombak banyak hal dalam rangka modernisasi dan westernisasi, mulai dari sistem perundangan, standardisasi hiragana dan katakana, sampai regulasi penamaan bayi. sebelum era reformasi meiji di jepang, orang-orang selain kelas bangsawan dan samurai, umumnya tidak bermarga. ya seperti orang di jawa lah, misalnya, bapaknya budi sarjono, ibunya juminten, anak pertama bambang adiguna, anak kedua sarjono ali, dll. pada saat itu, untuk menghindari kerancuan, misalnya dalam satu daerah ada beberapa ayumi, maka tuk membedakan masing-masing ayumi bisa dari:
1. daerah kelahiran (misal ayumi dari osaka) ini seperti imam al-bukhori dan imam al-nawawi yang orang lebih dikenal daerah asal mereka dibandingkan nama aslinya;
2. jika ayumi seorang pedagang maka pakai nama toko atau merk dagangnya misal ayumi ichiraku (ini seperti jika ada beberapa suwito di satu kampung, orang akan membedakannya dengan suwito bengkel, suwito makelar motor, suwito toko, dll);
3. bisa juga dengan nama ayahnya, misal nama ayah ayumi adalah takahashi, maka nama panjangnya akan menjadi ayumi takahashi (ya seperti nama orang-orang arab yang disambung 'bin' nama ayahnya).

di negara-negara yang memakai sistem marga, biasanya untuk orang-orang yang belum kenal-kenal banget akan dipanggil dengan nama marganya, ditambah gelar: mr, mrs, ms, sir, prof + surname, atau kalau di jepang, surname + san, sama, sensei. hal ini juga tuk menghormati lawan bicaranya. misalnya di film harry potter, ketika baru kenal prof. r.j. lupin, harry memanggilnya prof. lupin, tapi setelah kenal dia memanggilnya remus.
jika pada suatu waktu ada seseorang bersama bapaknya atau kakaknya (yang tentu marganya sama), orang akan membedakannya dengan sr (senior) dan jr (junior). seperti di serial sherlock bbc, di episode berapa itu pas seorang wanita memanggil "mr. holmes" dan menoleh dua-duanya (sherlock dan mycroft), lalu wanita itu meralat "not you, i'm calling mr. holmes sr." yang maksudnya adalah mycroft holmes.

biasanya juga untuk mengurangi kekakuan dan kesan berjarak, orang minta dipanggil dengan nama depannya saja. berbeda dengan nama belakang, untuk nama depan tidak pakai gelar apa-apa. orang-orang di negara barat tidak membedakan bahasa komunikasi untuk anak-anak sampai nenek-nenek. kalau di sini, kita manggil orang yang sudah tua harus dengan panggilan mbah atau pak misalnya mbah sumitro atau pak tejo. memanggil namanya tanpa mbah atau pak, siap-siap didamprat. kalau di barat, seorang anak kecil memanggil bill nye (yang fisikawan itu) dengan panggilan "bill" tanpa prof atau mr ya wajar-wajar saja karena memang budayanya begitu dan memang bill ingin dipanggil dengan nama depannya saja.

di negara-negara dengan sistem marga juga dikenal perubahan nama marga seorang wanita apabila sudah menikah mengikuti marga suaminya (karena patrilinealism and stuff), tentunya dengan pengurusan dokumen dan surat-surat resmi. karena itulah ada istilah maiden name atau nama gadis, yaitu nama seorang perempuan sebelum menikah. misalnya merry hopkins yang menikah dengan jake roper, maka namanya akan berubah menjadi merry roper. atau matsumoto ayumi yang menikah dengan tanaka kojiro, namanya pun akan berubah menjadi tanaka ayumi. nah, kalau di bank sering ditanya kan "maaf pak, nama gadis ibu kandungnya siapa?" ya sebenarnya itu berakar dari sana. lha tapi kalau di negara kita gak kenal budaya gituan, kan ya nama ibu kandung dari nama gadis sampai nama setelah meninggalnya bukankah akan sama saja?

referensi:
2. Why do people name their children after themselves? | Quora

p.s.
saya membandingkan penamaan bayi di jawa, karena akan terlalu luas jika mengatakan "indonesia". lagipula di beberapa daerah di luar jawa, bukankah ada yang pakai sistem marga juga.

30.01.2019
hujan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar