Minggu, 13 Januari 2019

Mitos-mitos di Tanah Jawa dan Kenapa Ia Harus Ada


"le, jangan duduk di depan pintu. nanti susah jodoh!"
padahal ya pada kenyataannya memang belum laku saja. hehehehe gak ding.

pastinya kamu-kamu sekalian pernah kan mendengar peringatan serupa? mitos lain yang tak kalah populer adalah dilarang menduduki bantal, karena bisa bisulan di bokong. ada lagi, kalau main-main ke pantai selatan (parangtritis, dan sebangsanya, yang menghadap laut hindia) gak boleh pakai pakaian warna hijau. katanya, hijau identik dengan nyi roro kidul dan barangsiapa memakai pakaian berwarna hijau di pantai selatan, akan "direkrut" oleh nyi roro kidul. wuuu seram. kenapa mitos-mitos tersebut ada, atau lebih tepatnya... untuk apa? perlukah?



menurut yuval noah harari dalam buku sapiens, peradaban manusia (homo sapiens) dari dulu bergantung pada mitos bersama untuk bisa bertahan dan berkembang. harari memakai istilah collective subjective reality (selanjutnya disingkat csr) yaitu suatu kebenaran subjektif yang diyakini bersama dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. tanpa csr tersebut, peradaban manusia tidak akan sebesar sekarang yang bahkan telah menguasai seluruh permukaan planet. how so?



harari menyebutkan dalam bukunya bahwa ada batasan manusia untuk bisa berkooperasi dalam kelompok besar. batasan tersebut disebut dunbar's number (penjelasan mengenai bilangan dunbar, bisa melihat video vsauce2 di atas. meskipun nda ada hubungannya dengan harari dan bukunya). manusia hanya bisa bekerja sama secara efektif apabila populasi kelompoknya tidak lebih dari 150 orang. menurut harari, hal ini juga ditemukan dalam kelompok simpanse dan bonobo. semakin banyak anggota kelompok, akan terjadi kooperasi yang semakin baik tetapi di atas angka 150 tersebut, anggota dalam kelompok akan cenderung tidak bisa bekerjasama dengan optimal dan bahkan akan saling bermusuhan, menyebabkan perpecahan dalam kelompok itu sendiri. why? karena keterbatasan otak manusia. otak kita hanya bisa memproses "pertemanan" di angka sekitar 150 tersebut. (mungkin itu pula sebabnya dari 1000an teman facebookmu, tidak ada separonya kamu kenal secara personal, bahkan jarang pula interaksi di fbnya. ya kan? ngaku saja.)

lantas di mana hubugannya dengan csr?
dengan sebuah nilai yang diyakini bersama, anggota-anggota dalam kelompok yang sangat besar bisa lebih mudah dikoordinasikan. sebagai contoh, konstitusi itu sesungguhnya hanyalah mitos belaka. konstitusi adalah buatan manusia. atau konkretnya, uud 1945 yang menjadi dasar negara kita, bukankah dibuat oleh manusia juga? uud 1945 tidak ada di alam. tidak ada di hukum universal gravitasi newton, atau hukum relativitas einstein, tidak ada pula dalam dna manusia. uud 1945 dibuat oleh para anggota ppki. dan masih bisa diubah isinya, bahkan sudah diubah 4 kali kan sejauh ini. wait a minute. bukan di situ intinya...
uud 1945 merupakan mitos bersama atau csr yang diyakini oleh seluruh warga negara indonesia dalam kehidupan bernegaranya. dengan adanya uud tersebut, semua kehidupan bernegara diatur. sebagai contoh pemilihan presiden yang dilakukan secara konstitusional, semua warga negara (atau setidaknya kebanyakan) di wilayah negara kesatuan republik indonesia bisa memilih pemimpin negerinya melalui pemilu 5 tahunan. pemilihan kepala negara tidak lantas dilakukan dengan cara gelut antar kepala suku (ala black panther). itu baru satu contoh pemilihan presiden. contoh lain masalah legalitas kepemilikan tanah. kalau dulu ketika awal-awal revolusi agrikultur (agricultural revolution), sapiens berebut kepemilikan tanah dengan senjata dan otot. sekarang, ada undang-undang yang mengaturnya. artinya kalau kamu tidak punya surat ajaib bernama sertifikat tanah, ya tidak bisa kamu asal klaim tanah orang dengan mengerahkan seluruh anggota sukumu (atau gang, bisa jadi) untuk berperang merebut tanah orang. ini tentang kesepakatan atau suatu nilai bersama saja. coba kalau semua orang indonesia tidak percaya 'fiksi' bersama yang bernama uud 1945 itu? chaotic? sangat bisa terjadi.

nilai-nilai atau norma dalam suatu kelompok masyarakat sangat mungkin untuk berubah seiring perubahan jaman pula. sebagai contoh konstitusi pertama di dunia, code of hammurabi yang ditulis oleh raja hammurabi di babylonia. hammurabi menulis (atau mengklaim) bahwa konstitusi tersebut diilhami oleh sesembahan babylonia pada waktu itu, dewa marduk. dengannya, hammurabi bisa mengontrol ribuan warga dalam kerajaannya. salah satu pasal dalam code of hammurabi tersebut menyebutkan bahwa wanita tidaklah sama derajatnya dengan laki-laki. di sana disebutkan, apabila seorang laki-laki membunuh anak perempuanmu, maka kamu berhak tuk membunuh anak perempuannya sebagai gantinya atau jika dia tidak punya anak perempuan, dia akan menggantinya dengan beberapa gram emas. mereka meyakini bahwa perempuan tidak lain dan tidak bukan hanyalah propertimu belaka. bahkan dalam laporan kepemilikan harta tuk pajak, anak-anak perempuanmu (dan istrimu) tidak masuk kartu keluarga tapi masuk ke daftar harta yang dikenai pajak (ya, jaman segitu sudah ada sistem perpajakan. keren ya). dalam peradaban babylonia tersebut, setiap orang "mengimani" nilai-nilai dan norma-norma yang ada dan menganggapnya wajar-wajar saja. rasional semua. sebab semuanya merupakan ilham dari sang dewa marduk. padahal kalau dalam nilai-nilai dan norma yang kita yakini di dunia modern ini, wanita dan pria harusnya punya hak dan kewajiban yang setara. wanita bukan properti dan bukan objek belaka. wanita adalah juga manusia seutuhnya, yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun (dalam arti kepemilikan benda, bukan miliki dalam arti yang itu, wahai cah cinta) .

selama ribuan tahun sebelum mengenal baca tulis, manusia menggunakan transmitter data paling mutakhir di planet pada masanya, mulut alias bahasa verbal. keunikan rongga suara sapiens sangat membantu dalam perkembangan peradabannya selama ribuan tahun. jaman majapahit apakah orang jawa sudah mengenal sistem baca tulis? tentu sudah, tapi apakah semuanya bisa baca tulis? it's questionable. wong di tahun 1960an saja, 40% orang indonesia masih buta huruf. itu 1960an ya, sekitar 60 tahun yang lalu, apalagi di era majapahit. sebelum era baca tulis, manusia meneruskan pengetahuan melalui lagu-lagu, mitos-mitos, dan dongeng-dongeng, atau dikenal pula dengan era sastra lisan.
nilai bisa berubah, teknologi juga berkembang sangat pesat. adanya mitos di peradaban kuno, selain untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang belum dimengerti (misalnya mitos nordik bahwa petir dibuat oleh thor), juga tuk kebaikan populasi manusia itu sendiri. mitos-mitos adalah alat pengatur yang paling mudah bagi orang-orang bandel.
kenapa dibuat mitos bahwa duduk-duduk di depan pintu menghambat jodoh? biar gak ada yang duduk di pintu. kalau semua duduk nyandar di kusen, lantas gimana orang-orang bisa lewat. makanya dibuat mitos yang ekstrem sekalian biar yang bebal suka duduk di kusen pintu mau pindah.
apakah benar memakai kaos warna hijau di parangtritis bisa direkrut nyi roro kidul? bisa jadi, hanya saja tidak secara harfiah. kaos warna hijau atau biru akan menyulitkan pertolongan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, keseret ombak misalnya. karena warna tersebut akan "menyatu" dengan warna birunya laut sehingga membatasi pandangan tim penyelamat dan menyulitkan proses penyelamatan.
kenapa menduduki bantal bisa bisulan? biar kamu-kamu gak asal duduk di bantal dan bikin bantal-bantal kapas cepat tepos sehingga gak empuk lagi buat tidur.
bisa jadi di tahun 2100 orang sudah tidak berkomunikasi verbal atau tulisan lagi, bisa jadi manusia akan pakai transmitter tuk berkomunikasi satu sama lain (bisa jadi juga tidak). tapi mitos-mitos tersebut akan terus lestari demi keberlangsungan peradaban manusia itu sendiri.
powerful sekali bukan?

13.01.2019
beberapa kali kedutan di tangan kiri.
menurut mitos, hal ini berarti mau dapat rejeki.
aku sih tidak terlalu percaya mitos-mitos seperti itu,
tapi kalau bagus bagiku ya tak percaya saja. ehehehe
semoga apa-apa yang selama ini diharapkan, segera terwujud.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar