Pada pertengahan bulan puasa tahun 2024 silam, Netflix menayangkan Three-Body Problem. Musim pertama dari serial itu menceritakan tentang kontak pertama antara umat manusia di bumi dengan sebuah peradaban alien di bintang yang berjarak 4 tahun cahaya dari sistem tata surya. Musim pertama tersebut terdiri dari 8 episode, yang ternyata menceritakan isi (atau mengadaptasi cerita dari) buku pertama dari trilogi tersebut.
Setelah menyelesaikan musim pertama, saya pun penasaran dan tak lama setelahnya check out saja triloginya dari Amazon. Dan benar saja, trilogi tersebut menjadi salah satu hot item saat itu karena serial Netflixnya.
Book 1: The Three-Body Problem
Pada masa revolusi kebudayaan di China era Zedong, Ye Zhetai ayah Ye Wenjie disiksa habis-habisan sampai meninggal dunia oleh para pelajar, karena sebagai seorang dosen Fisika dia mengajarkan Teori Relativitas Umum yang dianggap kontra revolusi. Wenjie yang melihat ayahnya dihabisi di depan mata kepalanya, merasakan kemarahan dan mungkin "dendam" yang mendalam. Lalu, sebagai anak dari tokoh yang kontra revolusioner, Wenjie harus menjalani hukuman sebagai tahanan politik. Pada masa itu, Tiongkok mulai memasuki masa industrialisasi dan sebagai tahanan politik, Wenjie melihat sendiri bagaimana hutan digunduli, bahkan pohon-pohon yang sudah hidup selama 300 tahun harus ditebang akibat industrialisasi. Lalu, karena keahliannya di bidang Astroisika ia pun dipindahkan ke stasiun penyiaran yang secara diam-diam ternyata memiliki misi mengirimkan transmisi ke bintang-bintang yang jauh untuk mencari kemungkinan menemukan peradaban luar angkasa. Hal yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat, namun Tiongkok juga ingin mencoba hal serupa untuk menyaingi hegemoni Barat.
Dari situlah, Kontak Pertama dengan peradaban maju di bintang yang jauh pertama kali terjadi. Pesan pembukanya berisi larangan "JANGAN BALAS! JANGAN BALAS! JANGAN BALAS!..." yang ditulis tiga kali. Wenjie yang saat itu sedang shift jaga dan kebetulan membaca pesan tersebut, langsung menuliskan balasan. Dia sudah merasa putus asa dengan umat manusia, sehingga berharap pada ras alien teknologi tinggi untuk datang dan memberi "penghakiman" kepada umat manusia di bumi.
***
Lalu kita melompat ke masa kini dan dipertemukan dengan Wang Miao, seorang ilmuwan ahli teknologi nanomaterial. Suatu hari ketika sedang memotret, ia menemukan keanehan dari foto-foto hasil jepretannya. Sebuah penghitung waktu mundur (count down timer). Tak hanya itu, di suatu malam ia dapati bintang-bintang berkedip kepadanya! Ada apakah gerangan? Rupanya ini semua berkaitan dengan teknologi benang nano yang sedang ia kembangkan. Setelah sekian lama berselang, Wang menemukan sebuah permainan virtual berjudul 3 Body Problem. Dalam permainan itu, dia melihat berbagai berncana alam di suatu peradaban planet yang jauh. Dia harus memecahkan teka-teki untuk menyelamatkan dunia itu dari kehancuran.
***
Di luar dunia virtual Miao, dunia sains dihebohkan dengan hasil riset-riset terkini di ranah sub-atomik yang melenceng jauh dari prinsip dasar fisika yang telah settle. "Science is dead." Ilmu pengetahuan telah mati. Lalu belakangan diketahui bahwa ini semua adalah ulah dari bangsa alien Trisolaran yang dunianya berjarak 4 tahun dari bumi. Sebuah dunia yang sangat chaotic dengan tiga mataharinya. Dunia mereka selalu mengalami masa-masa kekacauan dan masa harmoni secara berturut-turut yang menyebabkan peradaban dan teknologinya mengalami penyetelang ulang (resetting) setiap kali jaman kekacauan terjadi. Dengan teknologi yang sangat canggih, alien dari dunia dengan tiga matahari tersebut mengirimkan sepasang Sophon, yaitu supercomputer canggih yang hanya seukuran satu buah proton. Dengan sophon itu, bangsa trisolaran dapat mengintai bumi dari jarak 4 tahun cahaya, mengacaukan percobaan-percobaan di tingkat dasar (fisika partikel), dan pada akhirnya berusaha mencegah segala macam kemajuan teknologi di bumi sehingga teknologi manusia bumi akan tetap inferior. Hal ini karena mereka telah mempersiapkan armada antar planet untuk kabur dari dunia mereka yang penuh dengan kekacauan dan siklus pasang-surut peradaban, untuk melakukan eksodus besar-besaran dan menginvasi bumi. Sophon mengungkapkan kepada umat manusia bahwa armada mereka bergerak dengan kecepatan 1/1000 dari kecepatan cahaya, sehingga diperkirakan armaka trisolaris akan tiba di bumi dalam 4 abad.
***
Buku pertama ini utamanya berpusat pada Wang Miao dan ancaman kepunahan yang akan segera datang 400 tahun mendatang. Rasa frustrasi umat manusia digambarkan dengan sangat apik oleh Cixin Liu sehingga saya menyelesaikan buku ini hanya dalam waktu 3 atau 4 hari sejak pertama kali membacanya.
Book 2: Dark Forest
Kekacauan telah benar-benar terjadi. Dalam rangka menghadapi ancaman yang akan datang dalam jangka waktu 4 abad mendatang, umat manusia telah mengembangkan berbagai teknologi terutama yang berkaitan dengan perjalanan luar angkasa. Namun demikian, Sophon yang senantiasa mengintai membuat penelitian dan pengembangan tersebut terhambat, terutama dalam bidang fisika teoretis yang benar-benar mandeg secara total.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lantas mencari cara mengatasi krisis Sophon. Dimulailah Wallfacer Project oleh PBB. Dalam proyek tersebut, ada empat wallfacer dengan latar belakang dan keahlian masing-masing:
- Frederick Tyler, seorang mantan sekretaris Departemen Pertahanan Amerika Serikat;
- Manuel Rey Diaz, mantan presiden Venezuela;
- Bill Hines, seorang neurosaintis dari Inggris; dan terakhir
- Luo Ji, seorang ahli astronomi dan sosiologi.
Berbagai intrik pun terjadi di antara Wallfacer dan Wallbreaker. Teknologi hibernasi telah berhasil dikembangkan dan kini manusia dapat membekukan dirinya sendiri (berhibernasi) untuk kemudian dapat dibangungkan kembali puluhan hingga ratusan tahun setelah memasuki bilik hibernasi.
Ilmuwan roket juga telah berhasil mengembangkan roket dengan teknologi fusi nuklir. Umat manusia juga telah berhasil mengembangkan elevator angkasa yang memungkinkan orang-orang untuk mencapai orbit rendah (Low Earh Orbit) tanpa bantuan roket. Stasiun-stasiun peluncuran dibangun di orbit sehingga perjalanan ruang angkasa pun menjadi jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan ketika roket masih bergantung dengan teknologi bahan bakar kimia.
***
Suatu ketika, para ilmuwan secara langsung melihat armada Trisolaris dengan teleskop Hubble. Ancaman itu kini tak lagi jadi sebuah ide atau abstraksi belaka. Trisolaris benar-benar datang!
Book 3: Death's End
Umat manusia telah mengalami berbagai macam krisis dan kemajuan teknologi yang luar biasa. Setelah 3 dari 4 rencana Wallfacer digagalkan oleh para Wallbreaker-nya, Luo Ji pun bangun dari tidur panjangnya. Rencananya untuk mengirimkan mantra berhasil. Armada Trisolaris pun takut untuk mendekat lebih lanjut ke bumi.
Setelah ancaman kepunahan umat manusia akibat kontak pertama dengan Trisolaris dapat teratasi, kini umat manusia dan Trisolaris saling memegang "kartu as" masing-masing. Teori Dark Forest yang ditemukan oleh Ye Wenjie berabad-abad sebelumnya kini dimanfaatkan oleh umat manusia melalui Luo Ji sebagai Wallfacer yang memahami teori itu sepenuhnya.
Ancaman kepunahan kini tak hanya datang dari Trisolaris. Dengan dibukanya koordinat bumi dan tata surya, bangsa alien dari sistem tata surya yang lain pun dapat mengetahui posisi bumi dan berusaha untuk meluluhlantakkannya juga. "Lebih baik membunuh daripada dibunuh duluan."
PBB kini membuat kota-kota di luar angkasa dan sebagian besar manusia mengungsi ke kota-kota di angkasa itu. Namun demikian, tak ada gunanya lagi. Hutan Gelap (The Dark Forest) kini telah terbuka. Hanya tinggal menunggu waktu saja maka tata surya dan seluruh isinya akan lenyap.
***
Di tengah kehancuran dan kepunahan tata surya, ada beberapa manusia yang berhasil kabur menuju sistem tata surya yang sangat jauh. Di sanalah mereka kelak akan menyaksikan akhir dari alam semesta.
Kesimpulan
Setelah menyelesaikan buku pertama kurang dari seminggu, buku kedua saya selesaikan dalam tempo beberapa minggu, dan saya membutuhkan waktu hampir setahun untuk menyelesaikan buku ketiga. Semakin saya menyelami trilogi Cixin Liu ini, semakin saya dibuat takjub dengan penggambaran dunianya. Dengan latar belakang computer engineer, Liu mampu membuat pembaca tenggelam dalam ceritanya. Pada akhir cerita, saya sempat terdiam dan merenung panjang. Sejarah umat manusia, bahkan sejarah tata surya dan alam semesta dalam genggaman. Terima kasih, Liu, atas trilogi yang sangat magis ini.
Tangerang Selatan, 17 April 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar