Senin, 22 Agustus 2016
malam itu langit cerah tak berawan. polusi cahaya di kota Yogyakarta menutupi kilauan cahaya bintang di atas langit sana. saya sedang dalam perjalanan pulang dari IONs, selepas kursus IELTS. ketika melewati depan masjid kampus UGM, saya teringat sesuatu. belum beli dasi kupu-kupu! pikir saya. tetapi bukan semata-mata itu, tentunya. ada sebuah hal yang lebih penting.
saya bukanlah orang yang well-organized. bisa dilihat sendiri seperti apa rupa kamar saya -tetapi sebaiknya jangan. meskipun demikian, saya adalah orang yang senang merekap, mencatat kejadian-kejadian penting yang saya alami, atau apa pun yang ada di dalam pikiran saya. otak manusia adalah instrumen yang lemah. ingatannya terbatas. berbeda dengan komputer, atau buku cetak. karya dari abad keenambelas pun bisa dibaca oleh orang yang baru lahir empat ratus tahun setelahnya.
terpikir sebuah ide gila untuk memulai (atau lebih tepatnya menulis) sebuah novel. saya pun menghubungi seorang teman di surabaya melalui sebuah perangkat lunak perpesanan. dia adalah seorang penulis novel yang sekarang sedang bekerja sebagai reporter Jawa Pos.
"bagaimana caranya menulis novel?" pesan terkirim. centang dua warna biru muncul.
"pertama niat dulu. lalu mulai dan selesaikan. sesederhana itu."
"sesederhana itu?" apa-apaan, pikir saya.
"ada yang memulainya dengan membuat outline terlebih dahulu. ada yang langsung menulis begitu saja."
"sesederhana itu?" apa-apaan, pikir saya.
"ada yang memulainya dengan membuat outline terlebih dahulu. ada yang langsung menulis begitu saja."
"aku ingin menulis novel, tetapi untuk konsumsi pribadi."
"aku ingin membacanya ketika sudah selesai nanti."
"jangan. malu."
"tidak apa-apa. agar tulisanmu berkembang harus ada yang membaca."
"aku memang tak pandai menulis, mungkin kurang banyak baca."
"ya, begitulah. membaca itu semacam vitamin."
saya pun mulai membaca. kemarin-kemarin kemana saja memangnya. dari satu wacana gila bisa merembet ke hobi baru. hobi yang kurang populer di kalangan pemuda tanggung : baca buku.
saya tidak berharap tulisan saya itu nanti akan dibaca oleh orang lain, apalagi hingga menjadi keuntungan komersil. sepertinya juga tidak mungkin. saya hanya ingin merekam apa yang saya alami belakangan ini. menyimpannya dalam cetakan-cetakan tinta, dan membacanya kelak bersama istri tercinta, sambil tertawa-tawa. ternyata masa mudaku seperti itu ya.
tetapi kemudian saya tersadar. menulis blog pun saya tak bisa tertib, bagaimana dengan buku yang berlembar-lembar. semoga saja. tulisan itu akan terwujud. tidak sekadar wacana.
Yogyakarta, 30 Agustus 2016
aku ingin pulang


Waaah.. Kakak Anasimron rupanya yang kursus ielts di ions ya.
BalasHapusSalam kenal ya.
hmm mencurigakan
Hapus