Senin, 22 Agustus 2022

Mengapa kita mudah menghitung perkalian sepuluh?


Beberapa hari yang lalu, saya membeli beras di minimarket dekat rumah, dengan harga Rp 64.000 untuk 5 kg beras. Entah apakah itu mahal atau murah, untuk dibahas lain waktu saja karena saya akan bahas bagaimana otak saya menghitung 64 ribu dibagi 5 (untuk mendapat harga per kilogramnya). Begini kira-kira proses menghitung atau algoritma dalam otak:

60.000 / 5 = 12.000
4.000 / 5 = 800
Jadi, harga per kilogram beras tersebut adalah Rp 12.800

Lalu saya menyadari, alih-alih menghitungnya dalam basis 5, lebih mudah lagi kalau dalam basis 10, sebagai berikut:

64.000 / 10 = 6.400
6.400 * 2 = 12.800

Waktu SD dulu kita diajari bahwa perkalian dan pembagian dengan sepuluh itu sangat mudah karena tinggal menambah nol atau menggeser koma ke kanan untuk perkalian, dan sebaliknya untuk pembagian tinggal mengurangi nolnya atau menggeser koma ke kiri. Tapi mengapa? 

"Sudah dari sananya" bukanlah jawaban yang diharapkan.

Perkalian atau pembagian dengan bilangan sepuluh itu menjadi mudah tidak lain dan tidak bukan karena kita sejak dulu sudah terbiasa berhitung dalam basis-10. Kita punya satu set simbol-simbol angka untuk basis bilangan tersebut yaitu 0 sampai 9. Lalu ditarik lagi ke belakang, mengapa?

Kita kembali ke masa ketika manusia mulai belajar menghitung...

Bagaimana manusia zaman dahulu kala menghitung sebelum budaya tulis menulis ditemukan? Dengan batang hitung seperti wasit perlombaan volley antar kampung menghitung jumlah skor. Mereka membandingkan jumlah suatu hal yang dihitung dengan menyusun batang-batang kayu sesuai dengan jumlah objek yang dihitungnya atau dengan menggoreskan suatu simbol batang (tally) entah di permukaan batu, tulang, atau dinding. Nah, bagaimana kalau alat-alat tersebut sedang tidak tersedia (inaccessible)? Maka dipakailah batang-batang hitung yang sudah tersedia sejak kita lahir, yaitu jari-jari tangan yang jumlahnya... sepuluh. Itu adalah salah satu teori mengapa kita menggunakan bilangan basis sepuluh, alih-alih biner (basis-2) atau basis-16 (heksadesimal), misalnya.

Ngomong-omong tentang bilangan basis-2 dan basis-16

Bilangan basis-2 disebut juga bilangan biner adalah cara kerja komputer yang kita gunakan sehari-hari untuk bekerja, untuk menonton video YouTube, dan untuk kalian membaca tulisan di blog ini. Kalau manusia punya 10 jari, komputer cuma punya dua yaitu 1 dan 0, hidup dan mati, on dan off. Namun, karena bilangan biner terlalu panjang untuk dibaca manusia, diciptakanlah bilangan basis-16 (heksadesimal) yang menggunakan simbol 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F; dengan A bernilai 11, B bernilai 12 dan seterusnya. Sistem ini menjadi jalan tengah yang ringkas agar manusia bisa berkomunikasi dengan mesin secara lebih efisien —salah satunya dengan kode hex warna, yang digunakan di banyak aplikasi termasuk desain di blog yang sedang kamu baca ini.


Bogor, 22 Agustus 2022




Tidak ada komentar:

Posting Komentar