disclaimer : tulisan ini sepenuhnya bersifat subjektif berdasarkan pengamatan dan (lebih banyaknya) pengalaman pribadi saya. saya bukanlah seorang ahli bahasa atau semacamnya, cuma seorang indonesia kelahiran jawa yang sedang (dan mungkin akan terus menerus) mempelajari bahasa asing.
ada sebuah istilah yang populer di dunia online : "grammar nazi". istilah ini merujuk pada orang-orang di internet yang kelihatan gatal sekali untuk mengoreksi kesalahan grammar alias tata bahasa orang lain (paling jamak dilakukan pada kesalahan dalam berbahasa Inggris).
adanya grammar nazi tersebut membuktikan bahwa beberapa orang di internet menganggap kesalahan grammar adalah sesuatu yang mengganggu atau 'annoying' sehingga harus diperbaiki. di sisi lain, ada beberapa orang beranggapan bahwa grammar sesungguhnya tidaklah perlu-perlu amat. "berbahasa itu ya yang penting sama-sama dimengerti saja antara pembicara dan lawan bicara." begitu kira-kira katanya.
lantas manakah yang kira-kira lebih tepat? apakah bahasa itu asal dipahami? atau juga harus tepat secara syntax?
***
bahasa inggris itu berbeda sekali dengan bahasa indonesia. bahasa indonesia di pergaulan dengan bahasa indonesia di tempat rapat atau di ruang kuliah, tentu saja berbeda. ketika kita berbicara bahasa indonesia dengan baik dan benar di tempat yang tidak formal-formal amat, justru akan kelihatan sangat robotik dan aneh, dan orang-orang mungkin akan bertanya "kamu kenapa sih?"
bagaimana dengan bahasa inggris?
coba bukalah situs berita berbahasa inggris macam cnn, bbc news, the jakarta post dan sebagainya. sebagai situs berita, tentu saja bahasa standar lah yang digunakan. lalu bandingkan ketika kamu buka channel youtube pribadi atau blog-blog pribadi berbahasa inggris. bahkan di situasi pergaulan (yang tidak terlalu formal) pun, orang-orang native english speaker tetap menggunakan proper english (bahasa inggris yang baik dan benar).
barangkali itulah yang menyebabkan orang-orang yang bukan merupakan native english speaker kebanyakan menganggap bahwa yang penting itu ya belajar ngomong dulu. masalah benar salah, itu belakangan. pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi saya tidak setuju.
bahasa adalah kebiasaan. ketika sejak awal kita secara terus-menerus terpapar dengan bahasa inggris yang tidak sesuai, sampai dewasa pun kita akan menganggap bahwa itulah yang benar. mengutip perkataan ahli propaganda nazi jerman : "buatlah sebuah pernyataan (tidak peduli benar/salah), sampaikanlah secara terus menerus. orang pun pada akhirnya akan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran."
misalnya seperti ini,
"I will meet you there."
dengan
"I will meeting you there."
mana yang salah? yang kedua. tapi, ada yang bilang, yang kedua lebih enak diucapkan. tapi kan grammar tidak seperti itu. grammar itu tentang 'apa yang benar' bukan 'apa yang enak diucapkan/didengar'. meskipun, ketika kamu sudah 'khatam' dengan grammarmu, ketika ada kesalahan sedikit saja akan terasa tidak enak dan ngganjel aja di hati.
atau contoh lain deh. masih ingat kan lagu adele yang "someone like you". lagu itu kan chorusnya begini:
ada seorang teman yang mengatakan "harusnya someone hate you hehehehe", dan teman lain malah mengatakan "harusnya kan someone likes you" (dengan s). kesimpulannya adalah 2 teman tersebut sama-sama salah dalam memaknai "someone like you" yang mereka anggap "seseorang (yang) menyukaimu." padahal sama sekali bukan. kalau kita sudah 'khatam' dengan bab adjective clause harusnya kita sudah paham betul bahwa yang adele maksud dalam "someone like you" itu jika dituliskan secara lengkap kalimatnya adalah "never mind i'll find someone (who is) like you." yang berarti, "gak apa-apa, nanti juga aku bakal ketemu sama orang yang sepertimu."
ulas sedikit ya tentang adjective clause. namanya clause berarti kan anak kalimat. dan anak kalimat itu kan ya kalimat juga (sentence), yang setidak-tidaknya terdiri dari subject dan verb. dalam kalimat "never mind i'll find someone (who is) like you" kata someone adalah objek dari kalimat utama "...i'll find someone." nah someone seperti apakah yang akan ditemukan oleh subjek kalimat (I)? yaitu "someone (who is) like you." seseorang (yang sifatnya) sepertimu. makanya dinamakan adjective clause karena klausa "(who is) like you" tersebut mensifati atau memperjelas "someone". penghilangan connector (who) dalam kalimat tersebut dinamakan 'reduced adjective clause' karena sudah jelas (obvious), untuk mempersingkat kalimat, dan tentu saja agar terasa lebih poetic.
nah kalau tereduksi seperti itu kan bisa juga bermakna "someone (who) like you" (seseorang yang menyukaimu) dong? tetap tidak bisa. pertama, bahwa someone itu adalah singular subject dan harusnya dalam verb-nya ditambahkan s (jadi someone likes...). kedua, bentuk tereduksi (reduced form) dari kalimat "someone who likes you" yang tepat adalah "someone liking you" yang memakai present participle, yaitu v+ing yang berfungsi untuk mensifati atau memperjelas subjek klausa (someone) dan bukannya "someone like you". ketiga, lagunya jadi tidak masuk akal jika dimaknai demikian. perhatikan ya : "nggak apa-apa, nanti aku juga bakal ketemu seseorang yang menyukaimu." lah terus apa urusannya? apa urusan subyek (I) ketika ketemu someone yang menyukai mantannya?
atau contoh lain deh. masih ingat kan lagu adele yang "someone like you". lagu itu kan chorusnya begini:
"never mind i'll find someone like you..."
klausa someone like you di sana diartikan apa?ada seorang teman yang mengatakan "harusnya someone hate you hehehehe", dan teman lain malah mengatakan "harusnya kan someone likes you" (dengan s). kesimpulannya adalah 2 teman tersebut sama-sama salah dalam memaknai "someone like you" yang mereka anggap "seseorang (yang) menyukaimu." padahal sama sekali bukan. kalau kita sudah 'khatam' dengan bab adjective clause harusnya kita sudah paham betul bahwa yang adele maksud dalam "someone like you" itu jika dituliskan secara lengkap kalimatnya adalah "never mind i'll find someone (who is) like you." yang berarti, "gak apa-apa, nanti juga aku bakal ketemu sama orang yang sepertimu."
ulas sedikit ya tentang adjective clause. namanya clause berarti kan anak kalimat. dan anak kalimat itu kan ya kalimat juga (sentence), yang setidak-tidaknya terdiri dari subject dan verb. dalam kalimat "never mind i'll find someone (who is) like you" kata someone adalah objek dari kalimat utama "...i'll find someone." nah someone seperti apakah yang akan ditemukan oleh subjek kalimat (I)? yaitu "someone (who is) like you." seseorang (yang sifatnya) sepertimu. makanya dinamakan adjective clause karena klausa "(who is) like you" tersebut mensifati atau memperjelas "someone". penghilangan connector (who) dalam kalimat tersebut dinamakan 'reduced adjective clause' karena sudah jelas (obvious), untuk mempersingkat kalimat, dan tentu saja agar terasa lebih poetic.
nah kalau tereduksi seperti itu kan bisa juga bermakna "someone (who) like you" (seseorang yang menyukaimu) dong? tetap tidak bisa. pertama, bahwa someone itu adalah singular subject dan harusnya dalam verb-nya ditambahkan s (jadi someone likes...). kedua, bentuk tereduksi (reduced form) dari kalimat "someone who likes you" yang tepat adalah "someone liking you" yang memakai present participle, yaitu v+ing yang berfungsi untuk mensifati atau memperjelas subjek klausa (someone) dan bukannya "someone like you". ketiga, lagunya jadi tidak masuk akal jika dimaknai demikian. perhatikan ya : "nggak apa-apa, nanti aku juga bakal ketemu seseorang yang menyukaimu." lah terus apa urusannya? apa urusan subyek (I) ketika ketemu someone yang menyukai mantannya?
***
dulu waktu baru masuk smp, saya dikursuskan bahasa inggris oleh ibu saya. awalnya saya (tentu saja) menolak. ya gimana, waktu bermain jadi berkurang. tetapi belakangan saya bersyukur bahwa saya telah dikenalkan kepada bahasa asing yang benar sejak dini (perlu digarisbawahi ya, yang benar bukan yang asal ngerti). sebenarnya di sekolah pun sudah dapat bahasa inggris sejak kelas 3 sd kan, tapi ya begitulah. tidak bisa terlalu diharapkan.
ketika di tempat kursus dulu, selain diajarkan (lebih tepatnya sih digelontor ya, sampai enek) dengan grammar juga (pastinya) diajarkan ngebacod (speaking). tetapi entah mengapa saya lebih fokus dan lebih tertarik untuk mendalami grammar saja. hehehe jangan ditiru ya. karena tentu saja hal itu salah, sangat salah. sampai guru les saya mengkritik : "Anas is a good listener, but not a good speaker." sebab saking saya gak terlalu bisa ngebacod dibandingkan yang lain. ya gimana, wong setiap apa yang saya akan katakan saya akan 'mikir' sejenak apakah yang saya katakan benar secara tata bahasa, apakah kosakata yang saya gunakan tepat, dst. tapi ya di sisi lain, saya lebih cepat menyerap pelajaran dibandingkan yang lain dalam tata bahasa, kosakata, dll. hehehe
belajar grammar yang tepat memang terasa lebih 'menyakitkan' di awal, tapi akan sangat memudahkan di masa mendatang. ketika awal-awal mungkin saya belum terlalu bisa ngebacod dalam bahasa inggris, tetapi ya alhamdulillah sekarang sudah mendingan (meskipun belum bisa dibilang bahwa level bahasa inggris saya sudah conversational). tapi kan skor speaking saya di IELTS 6.0. artinya, bukan hanya saya bisa ngebacod tetapi juga bacotan saya benar secara tata bahasa, tapi juga kosakata yang saya pakai juga lumayan 'berbobot'.
bandingkan dengan seorang teman (ini beneran ya. kisah nyata, tidak saya buat-buat). sejak sma dia selalu juara lomba debat, speakingnya jago banget lah. cas-cis-cus, was-wes-wos. but unfortunately he speaks regardless of grammar alias asal ngomong aja tanpa peduli grammar. saya gak tahu bagaimana sistem penilaian dalam debat berbahasa inggris, apakah dinilai esensinya saja tanpa melihat grammar, pemilihan kosakata, dll atau gimananya. dan sekarang, dia bilang sama saya,
"nas gimana to kamu kok bisa punya toefl segitu. aku aja grammar banyak yang salah-salah."
dan saya bilang "hehehe, ya alhamdulillah luck aja sejak smp dikursuskan."
"lha aku juga sejak smp dileskan. tapi ya selalu bagian structurenya kacau."
"ya alhamdulillah sejak dulu sudah fokus di grammar. hehe"
"nas gimana to kamu kok bisa punya toefl segitu. aku aja grammar banyak yang salah-salah."
dan saya bilang "hehehe, ya alhamdulillah luck aja sejak smp dikursuskan."
"lha aku juga sejak smp dileskan. tapi ya selalu bagian structurenya kacau."
"ya alhamdulillah sejak dulu sudah fokus di grammar. hehe"
akhir kata. kalau kata temen-temen native, grammar shows class. when you speak with a proper grammar, you speak with class. ketika kamu bicara dengan grammar yang benar, kamu berkelas. orang yang berbahasa inggris dengan benar dianggap orang terpelajar dan karenanya, punya "kedudukan" lebih tinggi dibanding dengan yang 'bicara serampangan asal dimengerti'.
belajar ngebacod (speaking), mendengarkan (listening), menulis (writing), dan membaca (reading) itu penting, tapi belajar tata bahasa yang benar juga tidak kalah pentingnya (justru itulah core atau intinya). bukan kemudian 1 hal mengalahkan yang lain sebagaimana saya yakini dulu. keseluruhannya adalah satu set keterampilan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam mempelajari bahasa asing. apapun bahasanya.
jadi mulai sekarang, mulai hari ini, detik ini, marilah kita mulai belajar grammar dengan lebih serius lagi. sesuai kutipan di gambar atas itu. "waktu terbaik tuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. waktu terbaik kedua adalah sekarang." artinya, ya sudah kalau memang kemarin-kemarin 'lupa' buat menanam pohon, langsung saja tanam sekarang, jangan ditunda-tunda lagi (tentu saja menanam pohon itu adalah metafora yang bisa dimaknai apapun). saya pun begitu, karena skor structure and written expression saya di TOEFL-ITP atau skor TOEFL saya secara umum juga belum bisa sempurna.
salam
belajar ngebacod (speaking), mendengarkan (listening), menulis (writing), dan membaca (reading) itu penting, tapi belajar tata bahasa yang benar juga tidak kalah pentingnya (justru itulah core atau intinya). bukan kemudian 1 hal mengalahkan yang lain sebagaimana saya yakini dulu. keseluruhannya adalah satu set keterampilan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam mempelajari bahasa asing. apapun bahasanya.
jadi mulai sekarang, mulai hari ini, detik ini, marilah kita mulai belajar grammar dengan lebih serius lagi. sesuai kutipan di gambar atas itu. "waktu terbaik tuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. waktu terbaik kedua adalah sekarang." artinya, ya sudah kalau memang kemarin-kemarin 'lupa' buat menanam pohon, langsung saja tanam sekarang, jangan ditunda-tunda lagi (tentu saja menanam pohon itu adalah metafora yang bisa dimaknai apapun). saya pun begitu, karena skor structure and written expression saya di TOEFL-ITP atau skor TOEFL saya secara umum juga belum bisa sempurna.
salam
rumah, 21 juni 2018
arus balik gelombang terakhir (barangkali), karena sudah tidak seramai kemarin
lebaran tahun depan semoga sudah tidak di rumah (6000 km dari rumah lah ya maksudnya)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar