Usai belajar
Tapi justru semua
Baru mulai
Pada suatu hari di tahun 2019, saya duduk di sebuah wawancara seleksi mahasiswa S-2 di Departemen Kimia Fakultas Sains ITS. Ada sekitar 15an pendaftar saat itu, dan setelah menunggu beberapa saat tibalah giliranku untuk masuk ke ruang wawancara.
Ruangan dengan meja panjang itu berukuran kira-kira 2x3 m, dengan lima orang penguji, 1 ketua prodi pascasarjana, dan 1 orang dosen dari masing-masing kelompok bidang peminatan di departemen kimia (Kimia Organik, Anorganik, Fisik, dan Analitik). Proses wawancara itu merupakan bagian dari proses seleksi mahasiswa S2 di prodi Kimia setelah tes tulis yang dilakukan sebelumnya (di hari yang sama). Sebenarnya tes itu cuma "formalitas" belaka sih, karena ujung-ujungnya diterima semua. Bagaimana tidak, prodi S2 mungkin buka 50 kuota mahasiswa tapi yang daftar hanya 15 orang, ya pasti keterima semua (asal semua syarat terpenuhi).
Oke kembali ke pokok bahasan.
Ada satu pertanyaan yang berkesan pada saat wawancara itu, yang datang dari Ketua Bidang Anorganik. "Kamu S1nya di teknik, teknik nuklir lagi, tapi kenapa pilih S-2 di Kimia Sains? dan kenapa di ITS?"
"Saya ingin memperdalam ilmu kimia, khususnya reaksi kimia. Hal itu selama ini tidak saya dapatkan di program studi teknik. Dan kenapa ITS, agar lebih dekat dengan rumah serta suasana baru karena sudah lama tinggal, belajar, dan bekerja di daerah kulonan."
Dan akhirnya saya pun diterima sebagai mahasiswa S-2 Kimia ITS tahun akademik 2019/2020 semester gasal.
***
Saya menjalani kuliah di prodi S-2 Kimia sebagai mahasiswa paling senior (alias paling tua) pada usia 25 tahun —di saat teman-teman seangkatan saat itu kebanyakan fresh graduate dari S-1. Sebagai seorang alumnus teknik, ternyata benar saya mengalami banyak kegegapan. Banyak hal dan konsep yang terasa benar-benar baru bagi saya yang selama ini hanya belajar dari segi aplikasi langsung (misalnya spektroskopi), kini saya belajar dari sisi sebaliknya yaitu prinsip dasarnya.
Selain perspektif baru dalam melihat sesuatu (terapan vs prinsip dasar), saya juga belajar sistem dari skala yang berbeda. Di teknik saya terbiasa melihat sesuatu itu secara makro, bagaimana boiler bekerja, bagaimana sistem keselamatan suatu tangki gas bertekanan, dan sebagainya. Di prodi Kimia, saya melihat sistem dalam skala atomik, bahkan sub-atomik. Setelah bertahun-tahun berkutat dalam dunia Newtonian yang deterministik, kini saya mulai memasuki dunia kuantum yang probabilistik.
***
Dan COVID-19 pun menyerang
Tak sampai satu semester saya berkuliah, dunia dilanda pandemi COVID-19. Wabah yang mulai masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020 itu telah mengubah pola hidup seluruh dunia. Semua pelajar dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi dipaksa untuk menjalani pembelajaran jarak jauh, dan pekerja mulai mengenal pola kerja dari rumah (work from home, WFH). Orang-orang pun mulai membiasakan diri dengan aplikasi konferensi video —Zoom dan sejenisnya.
Kebetulan pada saat pandemi itu, saya di tengah-tengah seleksi CPNS BATAN 2019 yang sudah berlangsung sejak Oktober 2019. Karena adanya pandemi COVID-19, proses seleksi kompetensi bidang (SKB)_pun mundur hingga pertengahan tahun 2020.
Pandemi COVID-19 dan pola pembelajaran jarak jauh juga memungkinkan saya melanjutkan pekerjaan sampingan (part time job) sebagai guru privat secara daring (online). Memang semua itu ada hikmahnya.
Nah, mengenai efek COVID-19 ke penelitian tesis saya sendiri... ditambah dengan penerimaan CPNS BATAN... dan ternyata saya diterima juga dan mulai masuk BATAN pada 1 Januari 2021. Saya harus bolak-balik Serpong-Surabaya untuk mengerjakan penelitian tesis. Hal ini membuat studi saya benar-benar terlambat. Saya yang mulai masuk sebagai mahasiswa S-2 Kimia ITS pada semester gasal tahun 2019 baru bisa menyelesaikan studi pada bulan Desember 2022 saat saya mengikuti sidang tesis —7 semester lamanya.
Akhirnya selesai
Setelah berbagai drama perkuliahan, drama penelitian, hingga drama sidang, akhirnya saya dinyatakan lulus S-2 dari Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Berbeda dengan wisuda D-4 di Yogyakarta yang hanya diikuti oleh kedua orang tua, wisuda kali ini saya disertai juga oleh istri tercinta, sebelum ia berangkat untuk menempun S-2nya sendiri di Korea.

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar