Pada tahun 1868, seorang astronom Prancis, Pierre Janssen, dan astronom Inggris, Norman Lockyer, menemukan satu unsur baru melalui pengamatan terhadap spektrum cahaya Matahari. Mereka yang mengira unsur itu hanya ada di Matahari, lantas menamainya Helium —dari nama Helios, sang dewa Matahari. Awalnya, unsur baru itu dianggap sebuah logam, makanya diberi akhiran -ium.
Meskipun pada awalnya para ilmuwan mengira "logam" helium hanya ada di permukaan Helios, pada tahun 1882 Luigi Palmieri membuktikan keberadaan unsur tersebut, yang ternyata adalah gas —bukan logam— di Gunung Vesuvius; dan William Ramsay berhasil mengisolasinya pada tahun 1895. Walaupun kimiawan pada akhirnya menyadari helium bukanlah unsur logam, namanya sudah kadung populer di mana-mana, jadi nama itu melekat hingga hari ini.
***
Teleskop memungkinkan pengamatan planet-planet jauh...
Kisah penemuan helium itu bukanlah pertama kalinya kimiawan menamai suatu unsur baru dengan nama benda angkasa (celestial body). Kita kembali ke tahun 1781 ketika astronom Jerman-Inggris, William Herschel, berhasil menemukan planet Uranus. Uranus adalah planet pertama yang ditemukan dengan bantuan teleskop, sekaligus planet pertama yang penamaannya di luar pakem nomenklatur sebelumnya: Venus, Mars, Jupiter, Saturnus dinamai berdasarkan mitologi Romawi, sedangkan Uranus dari mitologi Yunani. Delapan tahun setelahnya, pada tahun 1789, Martin Heinrich Klaproth menemukan suatu unsur logam baru yang kemudian dinamai uranium untuk menghargai penemuan planet Uranus sewindu sebelumnya.
Catatan singkat: Herschel pada mulanya ingin menamai planet temuannya Georgium Sidus (Bintang George) untuk menghormati Raja George III. Namun, karena nama tersebut terlalu "Inggris" dan tidak selaras dengan nama planet-planet lain, astronom Jerman Johann Elert Bode mengusulkan nama Uranus tersebut, yang baru diterima secara umum pada pertengahan abad ke-19
Setelah penemuan Uranus, para astronom lain pun melakukan "perburuan" di langit malam. Hasilnya sungguh menakjubkan. Setelah ribuan tahun peradaban manusia hanya berhasil mencatat 5 planet yang terlihat dengan mata telanjang, kini dengan bantuan teleskop umat manusia berhasil menemukan 5 benda langit signifikan lain dalam jangka waktu kurang dari 200 tahun!
Dimulai dari penemuan "planet" Ceres pada tahun 1801 oleh astronom Italia, Giuseppe Piazzi. Dua tahun setelahnya, kimiawan Jöns Jakob Berzelius dan Wilhelm Hisinger yang menemukan suatu logam baru pun menamainya cerium, sesuai tradisi sebelumnya.
Sebentar, "planet" Ceres?
Ketika pertama kali Ceres ditemukan, para astronom belum punya "aturan baku" yang membedakan antara planet, planet katai (dwarf planet), dan asteroid. Nah, Ceres kala itu masuk dalam definisi planet —yang sudah dipakai sejak zaman klasik— yaitu benda bercahaya di langit malam yang keberadaannya berubah-ubah relatif terhadap bintang-bintang tetap. (bahasa Yunani "planetes" berarti pengelana).
Lanjut lagi, pada tanggal 28 Maret 1802, dengan bersenjatakan teleskop refraktor Dollond berukuran 5 kaki, Heinrich Wilhelm Olbers dari Jerman menemukan "planet" lain. Agar tetap konsisten dengan tata penamaan planet kala itu, dinamailah "planet" temuannya itu Pallas —dari Pallas Athena, sang dewi perang dan kebijaksanaan Yunani. Hanya setahun setelahnya, pada 1803, kimiawan Inggris William Hyde Wollaston mempublikasikan penemuan unsur barunya yang dinamakan palladium, salah satu logam bernilai tinggi karena berbagai kegunaannya.
Dan, jumlah "planet" pun melonjak tinggi
Teleskop yang semakin "kuat" tak hanya memungkinkan para astronom melihat benda-benda angkasa lebih jauh, tetapi juga memungkinkan mereka untuk melihat benda-benda kecil yang lebih dekat —yang selama ini luput dari pengamatan.
Setelah penemuan cerium dan paladium, pada 1804 Karl Ludwig Harding menemukan Juno dan 3 tahun setelahnya Olbers (penemu Pallas) menemukan Vesta. Nomenklatur dikembalikan ke tokoh-tokoh mitologi Romawi. Pada masa itu, para ilmuwan sudah mulai menyadari bahwa di antara Mars dan Jupiter, terdapat objek serupa dengan Juno dan Vesta itu. Ribuan bahkan puluhan ribu batu kecil yang bukan merupakan planet tunggal. Jadi, para kimiawan pun mulai kehilangan hype untuk menamai unsur-unsur baru dengan "bebatuan angkasa" yang ternyata sangat melimpah itu. Ibaratnya begini: sebongkah berlian bisa berharga, tapi koral di landasan rel kereta api kan biasa saja.
Pada pertengahan abad ke-19, objek-objek di antara Mars dan Jupiter itu kemudian secara baku disebut asteroid —dari bahasa Yunani Kuno aster yang berarti bintang, dan akhiran -oid yang berarti menyerupai. Pada masa itu pula, para kimiawan sudah mulai leave group WhatsApp komunitas astronomi. Mereka berhenti melihat ke langit untuk menamai unsur-unsur kimia baru, dan mulai menggunakan nama-nama yang lebih "membumi". Tren penamaan unsur di kala itu:
- Penamaan berdasarkan nama negara penemunya, misalnya: polonium ditemukan pada 1898 oleh Marie Curie yang lahir di Polandia.
- Penamaan berdasarkan tempat ditemukannya, misalnya: yttrium, terbium, erbium, dan ytterbium yang keempat-empatnya ditemukan di desa Ytterby, Swedia.
- Penamaan berdasarkan mineral asalnya, misalnya: kalsium dari bahasa Latin calx (kapur).
- Atau penamaan berdasarkan sifat unsur itu sendiri, misalnya: radium dinamai demikian karena sifatnya yang memancarkan sinar (bahasa Latin "radius" artinya sinar) —dari situlah kemudian muncul istilah radioaktivitas.
Planet mayor kembali ditemukan!
Setelah "asteroid boom" yang terjadi selama beberapa dekade di kalangan astronom, pada 1843 John Couch Adams di Inggris secara matematis menemukan adanya gangguan orbit Uranus. Menurut hukum gravitasi Newton, jika benda sebesar Uranus mengalami gangguan orbital, berarti ada sebuah objek yang kira-kira punya massa sebesar itu juga di dekat orbitnya. Dari situlah hipotesis planet kedelapan mulai santer di kalangan astronom. Urbain Le Verrier dan John Couch Adams secara independen melakukan perhitungan selama kurun waktu 1845 dan 1846; dan pada tanggal 23 September 1846 Johann Gottfried Galle berhasil membuktikan keberadaan planet baru tersebut berdasarkan perhitungan Le Verrier. Planet baru tersebut kemudian dinamai Neptunus.
Fun fact: Neptunus adalah planet pertama yang keberadaannya dibuktikan secara matematis dulu sebelum pengamatan langsung.
Karena Neptunus ini bukan lagi sembarang "batuan angkasa" melainkan sebuah planet mayor —yang punya status dan "kedudukan" yang sama dengan Uranus, hal ini memancing para kimiawan untuk join kembali ke grup WhatsApp astronomi. Kali ini, para fisikawan juga ikut nimbrung —khususnya fisika nuklir. Pada saat itu, uranium diyakini sebagai unsur paling berat yang ada di bumi dan perlu campur tangan para fisikawan untuk bisa "mensintesis" unsur neptunium yang lebih berat daripada uranium (no. atom 92).
Selama puluhan tahun, para ilmuwan mengira tidak ada lagi unsur setelah uranium. Namun, pada tanggal 18 Februari 1930, seorang astronom Amerika, Clyde Tombaugh, menemukan "planet ke-9" dari tata surya kita, yang kemudian dinamai Pluto. Penemuan ini pun menambah PR baru untuk para fisikawan untuk mensintesis satu lagi unsur yang lebih berat daripada uranium dan neptunium (yang bahkan saat itu belum bisa mereka bikin) dan membuat satu baris baru di tabel periodik.
Sekitar 1 dekade setelah penemuan Pluto, ilmu fisika nuklir semakin berkembang, sehingga pada suatu hari di tahun 1940, Edwin McMillan dan Philip Abelson dari Universitas California, Berkeley berhasil mensintesis unsur no. 93 yang namanya sudah "dibooking" sejak satu abad sebelumnya, neptunium. Tak lama setelah itu —hanya dalam hitungan bulan— Glenn T. Seaborg, Edwin McMillan, Joseph Kennedy, dan Arthur Wahl berhasil mensintesis unsur no. 94, plutonium.
Dengan ini, sempurnalah trio planet luar dengan orbit yang berurutan: Uranus, Neptunus, dan Pluto yang mewujud ke dalam trio unsur uranium, neptunium, dan plutonium yang letaknya di dalam tabel periodik juga berurutan.
Breaking News di awal abad 21
Pada tahun 2005, Mike Brown, Chad Trujillo, dan David Rabinowitz menemukan suatu benda angkasa yang kira-kira seukuran Pluto. Hal ini pun menjadi perbincangan hangat di kalangan Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Para astronom kala itu berada di ambang dilema: menjadikan Eris sebagai planet kesepuluh atau mengubah definisi planet. Mereka menyadari bahwa sabuk kuiper (daerah di luar orbit Neptunus, di mana Pluto dan Eris berada) mengandung ratusan objek lain seukuran Eris, sehingga jika Eris "diangkat" menjadi planet, akan ada ratusan planet lain —yang menambah hafalan anak sekolah. Maka, dalam sidang IAU pada Agustus 2006, diputuskanlah syarat untuk suatu benda angkasa disebut planet, yaitu: harus mengorbit matahari, harus memiliki massa yang cukup besar sehingga gravitasinya membentuk objek menjadi bulat, dan harus membersihkan orbitnya dari objek-objek lain. Karena Pluto dan Eris tidak memenuhi syarat yang ketiga (ada ratusan objek serupa di orbitnya), sejak saat itu Pluto tidak lagi dinyatakan sebagai planet. Resolusi lain yang dihasilkan dari sidang saat itu adalah kategori baru untuk benda-benda tata Surya, yaitu planet katai (dwarf planet), di mana Eris dan Pluto (dan beberapa objek lain) masuk dalam kategori itu.
Namun demikian, meski Pluto sudah dinyatakan bukan lagi planet di Tata Surya, namanya sudah diabadikan dalam tabel periodik, sebagaimana Ceres dan Pallas.
Mengenai berita dihapuskannya Pluto dari daftar planet di Tata Surya itu, saya masih ingat ketika itu saya duduk di bangku kelas 7 SMP dan saya kaget ketika guru Fisika saat itu menjelaskan bahwa Tata Surya sekarang hanya berisi 8 planet, tidak lagi 9 sebagaimana yang saya pelajari di SD. Kabar baiknya, hafalan planet anak-anak SD berkurang satu.
Kembali ke pertanyaan awal, ke mana Saturnium?
Selama ribuan tahun, manusia telah mengenal lima planet klasik: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Pengetahuan tersebut jauh sebelum ilmu kimia modern dan tradisi penamaan unsur berdasarkan objek angkasa lahir pada abad ke-18. Penamaan unsur-unsur yang "baru" ditemukan mengikuti nama benda langit yang "baru" ditemukan juga tentu menjadi tidak relevan. Karena Saturnus bukan benda langit baru, jadi tidak ada alasan untuk kimiawan memberi nama unsur baru berdasarkan nama Saturnus, atau nama planet-planet klasik lain.
Tangerang Selatan, 1 Agustus 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar