![]() |
| Foto yang diambil pada libur tahun baru 2018 |
Pada pertengahan tahun 2018, saya mengikuti wawancara dalam first screening program beasiswa Monbukagakusho (MEXT) Research Student 2019. Itu adalah tahap terakhir dalam seleksi beasiswa tersebut. Dari 120 orang yang diundang untuk mengikuti ujian wawancara di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, 60 orang akan diberangkatkan ke negeri sakura tersebut sebagai mahasiswa peneliti (research student) pada bulan April 2019 sebelum masuk ke program pasca-sarjana (S-2 maupun S-3). Itu adalah percobaan ke-2 saya dalam program tersebut dan saya gagal. Saya menangis sekencang-kencangnya. Hingga beberapa hari pun makan tak terasa enak. Sesuatu yang sudah saya persiapkan sejak 2017 ketika saya dinyatakan tidak lulus ujian tulis di program beasiswa yang sama.
Namun, kali ini kita tidak akan bicara kegagalan. Kita akan membahas mengapa dan bagaimana saya bisa lolos dalam seleksi Beasiswa LPDP tahap 1 tahun 2026. Untuk pertanyaan "mengapa", jawaban singkatnya adalah: saya sendiri juga tidak tahu (dan tidak yakin). Saya yakin faktor terbesarnya adalah kebetulan dan keberuntungan semata. Namun, kalau kita masuk ke pertanyaan "bagaimana", mungkin saya dapat sedikit jabarkan (meski secara administratif saya tinggal di provinsi Banten hehehe). Semua bermula ketika saya...
diterima menjadi CPNS BATAN
Kita agak mundur ke belakang, ke awal tahun 2019.
Setelah tidak lolos seleksi MEXT RS 2019, saya mendaftar lagi pada program MEXT RS 2020. Itu adalah percobaan ketiga saya pada program beasiswa MEXT. Dan singkat cerita saya gagal lagi, sehingga saya menyerah dengan idealisme dan mendaftar S-2 di dalam negeri. Saya masuk pada program studi S-2 Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya mulai pada semester gasal tahun 2019. Tak lama setelah itu, sekitar bulan Oktober 2019 seleksi CPNS dibuka lagi. Setelah ditelepon oleh ibu "Le, CPNS buka," Saya pun mendaftar seleksi CPNS ke BATAN lagi, untuk ketiga kalinya. Berbeda dengan dua seleksi sebelumnya yang saya jalani dengan sangat ngoyo, seleksi 2019 itu saya lakukan dengan biasa saja. Meningat saat itu saya sudah berkuliah S-2 di ITS sehingga ada perasaan nothing to lose saat mengikuti seleksi itu.
Namun, siapa sangka dengan mentalitas yowisben saat itu, saya justru lulus seleksi dan dilantik sebagai satu dari 146 Calon Pegawai Negeri Sipil BATAN yang mulai bekerja pada 1 Januari 2021. Penundaan pelantikan lebih dari 1 tahun lamanya itu terjadi karena di tengah-tengah seleksi CPNS, pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia dan secara tak langsung juga berdampak pada birokrasi dan penerimaan pegawai (CPNS) baru.
Lantas, apa hubungannya?
Oke, kita akan menuju ke sana. Sabar dulu. Keep reading.
***
Kegagalan demi kegagalan sejak lulus D-4 pada Agustus 2016 telah mematikan daya juang dan spirit saya. Saya pada akhirnya menerima kenyataan bahwa tidak apa-apa menjadi biasa saja, menjadi medioker yang menjalani rutinitas 9 to 5 (atau lebih tepatnya 7:30 to 4 untuk PNS). Tidak masalah jika cita-cita saat kita SMA tidak terealisasikan. Dalam hal ini, tentu teman-teman tahu bahwa sejak SMA saya ingin sekali mengenyam pendidikan tinggi di Jepang. (Kenapa weirdly specific Jepang, saya jelaskan di tulisan ini.) Saya pada akhirnya menerima kenyataan itu.
Namun, semangat untuk bersekolah di Jepang itu justru hidup kembali sejak menikah pada tanggal 17 Juli 2022. Istriku sejak hari pertama sudah on fire untuk melanjutkan pendidikan S-2 dan sudah mendaftar ke sana ke mari terutama di wilayah Eropa. Saya yang saat itu masih belum lulus S-2 dari Kimia ITS masih fokus untuk mengerjakan tesis sampai "akhirnya" wisuda pada bulan Maret 2023.
![]() |
| Wisuda ITS, Maret 2023 |
Sementara itu, istri saya sudah mendapat beasiswa KOICA dan memulai studi S-2 Epidemiologi di Yonsei University, Seoul mulai bulan Agustus 2023. Baru setahun menikah dan kami sudah berpisah. Hal ini memicu saya untuk tidak tinggal diam. Saya pun menantang diri untuk belajar hal-hal baru. Saya mulai belajar piano pada usia yang sudah jauh melampaui usia emas untuk belajar instrumen musik, saya mulai jogging hingga ikut event 5K, dan saya kembali belajar bahasa Jepang —bertahun-tahun setelah trauma akan kegagalan 2018 dan saat buku-buku teks sudah berdebu.
Enam belas bulan kemudian —Desember 2024, istriku pun menyelesaikan studi S-2 di Korea. Namun, tak begitu lama setelahnya —tak sampai setahun sejak pulang ke tanah air, tepatnya pada akhir September 2026— istriku sudah harus berangkat lagi ke Kanazawa University, Jepang untuk studi S-3 dengan beasiswa Monbukagakusho (MEXT).
Semua itu semakin memperkuat tekad dan kemauan saya untuk lebih serius melanjutkan sekolah di Jepang. Setelah cukup lama terlena dalam euforia kelulusan S-2 dari ITS, inilah saatnya untuk serius mencari jalan menuju S-3.
Mencari jalan untuk beasiswa Monbukagakusho
Salah satu standard kepala BRIN adalah bahwa semua periset harus punya kualifikasi pendidikan S-3. Untuk mempercepat visi tersebut, dibukalah program beasiswa Degree by Research (DbR) baik di tingkat S-2 maupun S-3. Pada program itu, BRIN bekerja sama dengan beberapa PTN seperti UI, UGM, dan ITB; lalu pegawai yang menempuh pendidikan lanjut dengan skema DbR tersebut tetap berstatus sebagai pegawai aktif (berbeda dengan status Pegawai Tugas Belajar). Tentu saja saya disuruh untuk daftar program itu juga.
Sepanjang tahun 2025 saya terus didorong (dipaksa) untuk mendaftarkan diri dalam program DbR. "Ayo dicoba aja dulu sambil menunggu program beasiswa lain dibuka." Namun, karena pada hakikatnya saya tidak minat mengikuti DbR, jadi sepanjang 2025 itu pula saya tidak pernah sekali-pun mendaftar.
Selain, karena "cita-cita" untuk bersekolah di Jepang belum juga terwujud dari tingkat S-1 sampai tiba-tiba lulus S-2 dari Kimia ITS. Jadi, sekaranglah saatnya. Saatnya untuk menempuh pendidikan formal tertinggi di Negeri Sakura. Dan akhirnya, pada akhir bulan September 2025 ada alasan kuat sehingga saya diizinkan untuk tidak mendaftar dalam program DbR itu dan mengejar obsesi saya untuk S-3 di Jepang. Alasannya sederhana: "Istri saya sudah di sana."
Setelah direstui untuk tidak ikut DbR
Pencarian beasiswa Monbukagakusho pun dimulai kembali. Sejak Oktober 2025, saya sudah mulai mencari-cari universitas di Jepang yang membuka program beasiswa University Recommendation. Banyak surel saya kirim ke para profesor dari berbagai universitas di Jepang dengan subjek "Prospecitve PhD Student" dengan lampiran berupa CV akademik dan rencana penelitian saya. Mulai dari Hokkaido University sampai Kanazawa University, Osaka University hingga Tohoku University, banyak sekali yang tidak membalas, kalaupun berbalas isinya penolakan atau mengabari bahwa beliau akan pensiun dalam waktu dekat.
Saya mengikuti ujian TOEIC pada bulan November 2025, untuk memenuhi salah satu syarat dari pendaftaran beasiswa Monbukagakusho University Recommendation. Hasilnya memuaskan, sih, tapi bayarnya tidak. Sudah rugi habis 2 jutaan rupiah tapi belum juga ada hasil dari profesor dan universitas di Jepang. Hingga tak terasa tahun 2025 pun berakhir.
***
Pencarian berlanjut
Pada awal tahun 2026, lebih tepatnya pada bulan Februari 2026, dibukalah program beasiswa LPDP tahap 1. Teman-teman sekantor menyarankanku untuk mendaftar pada program tersebut, meski ada sedikit keraguan karena saat itu saya belum punya nilai (dan sertifikat) IELTS terbaru —saya terakhir mengikuti tes IELTS sekitar 10 tahun yang lalu pada bulan November 2016. Selain itu, saya juga belum pernah mengikuti seleksi beasiswa LPDP sebelumnya.
Setelah berbagai pertimbangan dan "kapan lagi", saya nekad saja untuk mendaftarkan diri pada seleksi Beasiswa LPDP tahap I tahun 2026. Saya menyadari bahwa LPDP tidak menerima sertifikat TOEIC yang unfortunately sudah menghabiskan 2 jutaan rupiah itu, jadi saya mau tidak mau harus mengambil IELTS dengan biaya 3 jutaan rupiah. Bisa dikatakan, belum apa-apa saya sudah menghamburkan menghabiskan sekitar 5 juta rupiah untuk membuktikan saya bisa berbahasa Inggris di suatu negara yang lebih dari 90% rakyatnya tidak berbahasa Inggris. Lucu sekaligus ironis.
Singkat cerita, dengan hanya persiapan selama satu minggu —mostly untuk me-refresh lagi seperti apa bentuk tesnya— pada tanggal 7 Februari 2026 saya mengikuti tes IELTS yang kedua kalinya setelah sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kali saya mengikutinya.
Senior saya yang sudah lolos seleksi LPDP 2 tahun lalu dan sedang menempuh S-2 di Jepang mewanti-wanti karena persyaratan tahun ini IELTS minimal 7,0 sedangkan di saat keberangkatannya "hanya" 6,5; jadi saya agak ketar-ketir juga.
Tes IELTS yang saya ikuti pada tanggal 7 Februari teresbut berbasis komputer (computer-based) sehingga hasilnya pun cepat sekali keluar — berbeda dari tes IELTS yang saya ikuti pada 2016 yang masih paper based. Keesokan harinya, pada tanggal 8 Februari 2026 sekitar pukul 15:00 WIB, hasil tes saya pun keluar. Dan, hasilnya benar-benar di luar dugaan:
Okay, lantas saya membuka akun LPDP yang ternyata sudah pernah saya buat sejak 2016 dulu... dan baru dipakai untuk mendaftar program beasiswa (lagi-lagi) 10 tahun kemudian. Sungguh kebetulan yang sangat mantap. Saya mengajukan permintaan kepada atasan untuk dibuatkan usulan dan rekomendasi. Saya setelah itu melengkapi data, membuat personal statement, komitmen kembali ke Indonesia dan rencana pasca-studi, serta proposal riset (khusus pendaftar program S-3); saya pun melakukan submit pendaftaran tepat pada tanggal 22 Februari 2026 —hari terakhir batas pendaftaran beasiswa LPDP tahap I tahun 2026. Untung saja situs pendaftarannya tidak crash.
Setelah itu? Saya benar-benar lupakan pendaftaran itu karena seperti yang sudah-sudah, beasiswa Monbukagakusho adalah creme de la creme dan impian tertinggi sejak saya mengenalnya pas SMA dulu. Sehingga, saya lupakan sejenak pendaftaran LPDP yang saya ikuti dengan setengah hati itu untuk kemudian mempersiapkan pendaftaran beasiswa Monbukagakusho Research Student 2027. Namun demikian, pada tanggal 23 Maret 2026 saya mendapat pemberitahuan lolos seleksi administratif LPDP dan berhak untuk mengikuti tahap seleksi selanjutnya (Seleksi Bakat Skolastik, atau semacam TPA).
Mendaftar beasiswa MEXT untuk yang ke-EMPAT kalinya
Tidak seperti beasiswa LPDP yang proses pendaftaran, ujian, sampai pengumumannya serba online; pendaftaran beasiswa Monbukagakusho sangat paper-based. Semua dokumen harus dikirimkan dalam bentuk fisiknya ke kedutaan besar Jepang di Jakarta.
Setelah 3x pendaftaran sebelumnya saya percayakan dokumen pendaftaran kepada kurir dan pak pos, pada tanggal 22 April 2026 saya datang secara langsung ke kedubes dengan membawa amplop berwarna cokelat. Persis pencari kerja di era 2000-an awal.
Setelah itu, saya mengharap-harap cemas sambil mempersiapkan Seleksi Bakat Skolastik (SBS) LPDP yang jatuh pada tanggal 5 Mei 2026.
***
SBS LPDP terdiri dari tiga bagian utama: Kemampuan Verbal, Kemampuan Kuantitatif, dan Pemecahan Masalah. Tesnya dilakukan secara daring (online) dengan Safe Browser di PC/Laptop dan sebuah HP yang terhubung ke Zoom dan harus menyala mikrofon serta kameranya. Kamera harus dihadapkan kepada peserta ujian dan layar PC untuk ujiannya. Sebuah prosedur anti-cheating yang mantap sekaligus merepotkan. Saya tidak akan bercerita seperti apa isi ketiga bagian dalam SBS ini, silakan cari sendiri dari berbagai sumber lain di internet (sangat banyak), tapi kurang-lebih seperti TPA BAPPENAS, dan ada yang bilang seperti SIMAK UI. Ya, setipe dengan tes-tes itu lah.
Jadwal SBS saya tanggal 5 Mei 2026 itu bertepatan dengan hari kerja, sehingga saya mengajukan cuti tahunan untuk mengikuti ujian tersebut. Setelah ujian selesai, saya keluar untuk refreshing dan memanfaatkan cuti tahunan yang sudah diambil.
Beberapa teman saya berkomentar bahwa passing grade tahun lalu adalah 160 dan nilai SBS saya 155, jadi ada kemungkinan tidak lolos ke tahap berikutnya. Namun, lagi-lagi saya kembali kepada prinsip datang, kerjakan, lupakan, lalu melanjutkan hidup sebagai rakyat (dan pegawai negeri) biasa.
***
Seleksi Substansi LPDP
Setelah melupakan SBS, tak disangka-sangka ternyata nilai saya yang 155 itu masih di atas batas kelulusan (passing grade) untuk PNS saat itu yakni 150; dan saya menunggu keluarnya jadwal tahapan seleksi terakhir yaitu Seleksi Substansi (alias wawancara).
***
Pada hari Senin, 25 Mei 2026 pukul 15:00 WIB saya mengikuti Seleksi Substansi Beasiswa LPDP. Meski wawancara dilaksanakan pada sore hari dan katanya hanya 1 jam doang, saya tetap mengajukan cuti tahunan dan bersiap-siap sejak pagi. Wawancara dilakukan secara daring dengan Zoom. Menurut buku panduan, peserta diharapkan stand-by di ruang Zoom satu jam sebelum jadwal karena ada kemungkinan peserta sebelumnya selesai lebih awal. Buku panduan juga menyebutkan dresscode seleksi wawancara yaitu dengan kemeja formal atau batik. Namun saya mengenakan blazer dengan dasi karena saya yakin bahwa kesan pertama itu penting.
Sekitar pukul 14:30 saya masuk ke ruang Zoom dengan perut yang mulas dan dada yang sangat terasa deg-degan. Saya akhirnga diizinkan masuk sekitar pukul 14:45. Ada 5 akun di sana, akun saya sendiri, 1 akun admin LPDP, dan 3 orang penguji atau penelis.
Ujian wawancara dibuka dengan formalitas menanyakan kabar. Panelis pertama lalu menyuruh saya untuk mengangkat laptop dan mengelilingi ruangan 360 derajat sebagai prosedur anti kecurangan, setelah itu saya ditanya ada berapa handphone yang dipakai dan disuruh untuk mematikannya di depan kamera. Setelah HP mati, lalu disuruh dijauhkan dari jangkauan. Setelah itu panelis mengkonfirmasi lagi apakah saya siap untuk diwawancara, apakah saya sedang menerima pembiayaan lain atau sedang menempuh pendidikan di tingkat yang saya lamar (yaitu S-3). Ya, intinya masih prosedural. Rasa mulas dan deg-degan pun berkurang drastis.
***
Lalu tiba pada pertanyaan pertama
"Mas Anas, kenapa memilih Jepang?"
Saya menjelaskan mengenai hubungan antara bidang keilmuan yang saya ingin pelajari (yaitu teknologi nuklir) dengan kondisi di Jepang yang sudah ajeg sejak puluhan tahun lalu, serta aspek di luar kelas antara lain disiplin yang tinggi, angka kriminalitas yang rendah, standar hidup tinggi, dan kata-kata bersayap serupa. Tak lupa saya menyampaikan alasan pragmatisnya, "karena istri saya sudah di sana."
Ketiga panelis pun terkekeh dengan jawaban yang agak nyeleneh dan barangkali di luar dugaan tersebut. Lalu panelis mulai melakukan bridging mengenai tantangan berkuliah di luar negeri, mengenai perbedaan budaya dan bahasa, lalu menyuruh saya untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang. Sungguh aneh namun expected karena temanku yang mendapat jadwal wawancara 1 jam sebelum saya mengatakan bahwa dia disuruh perkenalan diri dalam bahasa Jepang. Kebetulan memang pilihannya ke Jepang semua, dan kebetulannya lagi ketiga pengujinya sama dengan pengujiku. Panelis pertama juga menanyakan mengapa studi S-2 saya sempat molor lama sekali. Saya jawab saja bahwa waktu itu saya diterima menjadi CPNS BATAN sehingga ada hambatan dalam menyelesaikan tesis dan adanya pandemi COVID-19 yang juga membatasi mobilitas dari Serpong ke Surabaya.
Okay, lanjut dengan penguji kedua yang langsung membuka "Pak Anas, IELTS-nya 8, jadi kita full English ya." Dan kira-kira selama 20 menit kami banyak mengobrol mengenai rencana riset di Jepang, apa saja kebaruannya, dan apa yang kira-kira dapat diterapkan di Indonesia, khususnya di fasilitas nanti.
Panelis ketiga langsung mengakui diri sebagai seorang psikolog. Di sini beliau tidak banyak bertanya, justru memberi berbagai wejangan mengenai kehidupan S-3. Beliau menyampaikan banyak kliennya yang S-3 dan mulai berubah sikapnya ke pasangan maupun ke keluarganya, dan mewanti-wanti agar saya tidak sampai seperti itu. Kemudian beliau juga bertanya bagaimana nanti kalau dikaruniai anak di Jepang nanti. Saya menjawab, "Sejak awal memang sudah berkomitmen menunda kehamilan." Jawaban tersebut langsung mendapat apresiasi juga dari panelis lain, "Ilmuwan sejati ini, prioritasnya pendidikan dulu."
Terakhir, saya diminta menyampaikan closing statement pada seleksi substansi hari itu. Pesan saya cukup normatif lah ya. Saya sekolah ini bukan semata-mata dalam rangka untuk peningkatan kapasitas sebagai individu saja namun juga sebagai kontribusi bagi negara melalui BRIN sebagai institusi tempat saya bekerja. Lalu sekitar pukul 15:40 WIB saya meninggalkan ruangan Zoom. Memang benar kurang-lebih 1 jam wawancaranya.
Setelah itu, saya melakukan konseling dengan teman seperjuangan yang pernah mendapat beasiswa LPDP pada saat S-2 di UGM dan kemarin juga mendaftar lagi untuk S-3 di UNPAD. Di sini saya berbagi apa saja pertanyaan yang tadi ditanyakan, tiba-tiba disuruh perkenalan diri dalam bahasa Jepang, tiba-tiba full English, sampai ke jawaban nyeleneh memilih Jepang karena sudah ada istri di sana.
Selanjutnya, saya mendinginkan kepala sejenak, makan steak, kemudian kembali pada prinsip datang, kerjakan, lupakan.
Kegagalan yang ke-EMPAT kalinya
Pengumuman seleksi administrasi Beasiswa Monbukagakusho Research Student 2027 jatuh tepat pada hari Senin, 8 Juni 2026. Dengan berharap-harap cemas sejak pukul 00:00 WIB saya membuka situs Kedutaan Besar Jepang di Indonesia secara berkala.
Sekitar pukul 14 siang, grup Discord perbeasiswaan Jepang yang saya ikuti mulai rame. Pengumumuman telah dimuat di website kedutaan besar. Saya langsung mengunduh file PDF pengumumannya. Saya mencari nomor pendaftaran SJ1364. S adalah kode rumpun (Science), J kode kota pilihan untuk ujian tulis (Jakarta), dan 1364 berarti saya adalah pendaftar ke 1364 pada seleksi ini.
Tidak ada SJ1364
Tentu saya masih denial dan melihat-lihat lagi. Teringat di pertengahan 2018 ketika kode pendaftaran saya tidak ada di pengumuman akhir. Namun, dilihat 1000 kali pun kode pendaftaran itu tidak akan secara ajaib muncul. Ya, saya telah gagal lagi dalam seleksi beasiswa MEXT. Meskipun demikian, hidup belum berakhir. LPDP belum pengumuman akhir, dan masih ada kesempatan terakhir saya untuk mengikuti seleksi beasiswa MEXT —terkait persyaratan usia, yaitu maksimal 34 tahun saat keberangkatan. Jadi, saya mencoba tenang dan menggunduli rambut hehehehehe. Tidak ada kaitannya sama sekali sih, tapi agak risih juga sudah 2 bulan lebih belum potong rambut.
Bersiap mendaftar lagi...
Setelah saya yakin dan tidak lagi denial dengan pengumuman seleksi administrasi dari Kedubes Jepang, saya mulai menyusun strategi kembali. Saya menghubungi senior di kantor mengenai ide riset untuk S-3, kira-kira apa yang berdampak besar, terukur (measurable), dan yang terpenting dapat dicapai selama masa studi yang direncanakan (achievable). Saya mulai membaca-baca lagi dan mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran lagi. Pendaftaran yang terdekat adalah pendaftaran beasiswa LPDP tahap II tahun 2026 yang diperkirakan dimulai pada bulan Juli 2026, serta lagi-lagi program beasiswa MEXT by University Recommendation yang biasanya mulai dibuka mulai bulan September.
Saya pun membaca-baca jurnal lagi, mencari-cari celah di mana kebaruan yang dapat saya ajukan, sembari berkonsulatasi dengan senior di kantor. Di sela-sela kegalauan itu, Piala Dunia 2026 pun dimulai dengan pertandingan pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan pada 11 Juni 2026. Well, lagi-lagi tidak ada hubungannya sih. Keep reading.
***
Pengumuman Akhir LPDP tahap I tahun 2026
Menurut publikasi dan posting media sosial LPDP, pengumuman akhir seleksi beasiswa LPDP tahap 1 akan dibuka pada hari Senin, 22 Juni 2026. Sejak pagi teman-teman di kantor sudah bertanya bagaimana hasilnya. Saya yang sejak awal memang 1/2 hati menjawab "Aku pun tidak yakin." Dari pagi hingga sore jam pulang kantor belum pengumuman juga. Dan saya menunggu sampai hampir tengah malam. Jam 11 malam saya tertidur.
Besok paginya, saya terbangun karena alarm. Kebetulan ingin menonton pertandingan Prancis vs Irak juga. Dan, selayaknya orang baru bangun tidur, yang pertama kali dibuka kan HP dulu. Tanpa ekspektasi apa-apa saya menuju chrome browser dan membuka akun pendaftaran LPDP. Dengan kondisi setengah sadar saya melihat tulisan hijau dan saya klik lebih lanjut ke pengumuman...
Sungguh di luar ekspektasi. Dengan proses seleksi yang sama sekali tidak ngoyo, saya dinyatakan lulus seleksi substansi. Jadi teringat tahun 2019 ketika saya lolos seleksi CPNS dengan haha hihi juga. Memang benar bahwa rejeki tidak akan ke mana.
Saya langsung mengabari segenap keluarga dan grup kantor, dan semua ikut merayakan.
***
Kesimpulan (dan Saran)
Setelah bertahun-tahun memimpikan studi lanjut di Jepang, saya akhirnya menemukan jalan melalui beasiswa LPDP —dengan hanya sekali percobaan. Saya bisa mengatakan bahwa ini semua tidak terjadi hanya pada seleksi itu semata, namun hal-hal yang telah saya lalui selama 10 tahun sejak lulus D-IV pada 2016 silamlah yang memungkinkan hal itu terjadi. Setelah gagal 4x dalam seleksi beasiswa Monbukagakusho, 2x gagal beasiswa INPEX, 2x gagal masuk KAUST, dan 2x gagal seleksi CPNS; saya pada akhirnya "dipaksa oleh keadaan" untuk melakukan refleksi diri, melakukan introspeksi, dan kembali menghidupkan impian-impian yang mati di tengah jalan.
Kalau segala sesuatu itu ada hikmahnya, mungkin hikmah dari kegagalan CPNS 2x adalah agar yang ke-tiga kalinya saya diterima di tempat dengan orang-orang yang super suportif dan mau membantu saya dalam proses seleksi LPDP kemarin. Saking suportifnya, bahkan kompetitor (saingan) saya dalam proses seleksi itu pun ikut membantu. Kompetitor sekaligus mentor itu adalah orang yang saya video call itu (lihat foto di atas). Dan untungnya kami berdua lolos.
Masuk sebagai CPNS BATAN angkatan 2019 juga memungkinkan saya untuk bertemu wanita yang saat ini menjadi istriku. Seseorang yang memberikan semangat dan motivasi secara langsung, yang memicu saya untuk menghidupkan kembali mimpi yang sempat terkubur oleh realita, membuatku kembali belajar bahasa Jepang, kembali mendaftar beasiswa Monbukagakusho, serta secara tidak langsung membuat saya mendaftar beasiswa LPDP. Selain itu, sebagai PNS saya masuk dalam kategori pendaftaran tersendiri di LPDP dengan passing grade yang lebih rendah daripada pendaftar umum. Ini adalah salah satu privilege yang tidak bisa saya ingkari.
Kegagalan demi kegagalan juga membuat mental nothing to lose ini semakin terasah. Tidak perlu lagi menghitung probabilitas keberterimaan. Kalau kita coba, barangkali kemungkinannya kecil untuk lolos, tapi kalau tidak dicoba pasti tidak akan lolos.
Maka, sebelum menutup tulisan ini, berikut beberapa saran yang bisa saya berikan untuk teman-teman pembaca yang sekiranya ingin mengikuti seleksi beasiswa LPDP (atau program lain).
- Penguasaan bahasa asing itu bukanlah proses yang instan. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Bisa teman-teman baca sendiri bahwa pada tahun 2016 skor IELTS saya hanya 6,5 dan butuh waktu 10 tahun untuk menaikkan 1,5 poin. Saran saya adalah mulai saja dari hal-hal kecil, misalnya menonton video vlog berbahasa Inggris, dengarkan podcast berbahasa Inggris, jangan pakai subtitle saat menonton film berbahasa Inggris (atau gunakan English subitle), baca buku berbahasa Inggris sebanyak-banyaknya baik fiksi maupun non-fiksi. Tidak ada kata terlambat. Ingat pepatah Cina: "Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah hari ini."
- Saya tekankan lagi, tidak perlu menimbang-nimbang probabilitas. Kemungkinan yang kecil masih lebih besar daripada probabilitas nol. Jadi, sebisa mungkin dicoba dulu. Siapa tahu percobaan isengmu justru yang membuahkan hasil —seperti yang saya alami ini. Bahkan kalaupun tidak lolos seleksi, kegagalan itu masih bisa menjadi pelajaran untuk program-program seleksi yang lain —lagi-lagi seperti yang saya telah alami juga.
- Kejujuran adalah yang utama. Memang benar dalam proses seleksi beasiswa atau seleksi apapun, kita harus menunjukkan versi terbaik dari diri kita. Dipoles-poles boleh, tapi tidak perlu berbohong. Jangan terlalu muluk-muluk juga karena dalam konteks LPDP, saya rasa panelis yang berasal dari kalangan psikologi akan bisa membaca kalau kita berbohong atau pereus dan terlalu muluk-muluk. Be genuine!
- Tips pada seleksi administrasi, perhatikan "tema besar" pada seleksi yang berjalan. Misalnya pada saat saya mendaftar, temanya adalah hilirisasi, jadi personal statement dan proposal riset saya arahkan ke sana. Dan berhubung bidang pekerjaan saat ini berkaitan dengan teknologi produksi radioisotop, jadi lebih spesifik lagi ke peningkatan produksi radioisotop. Tidak kalah pentingnya, jangan lupa konten atau substansi yang kamu tuliskan baik itu di personal statement, komitmen kembali (kalau tujuan LN), rencana pasca studi, dan proposal riset (pendaftar S-3). Walaupun tidak perlu dihafalkan kata-per-kata tapi minimal isinya harus kamu kuasai karena nanti akan dicocokkan pada saat ujian substansi.
- Pada seleksi administrasi juga, misalnya tujuanmu untuk daftar ke luar negeri pun, tidak ada kewajiban menulis personal statetemt atau komitmen kembali ke Indonesia dalam bahasa Inggris. Kemarin tulisan saya 100% dalam bahasa Indonesia dan lolos-lolos saja. Kemampuan berbahasa Inggrismu sudah dibuktikan dengan skor IELTS atau TOEFL.
- Tunjukkan kontribusi yang telah, sedang, dan yang akan kamu berikan kepada negeri ini dan segenap pembayar pajak yang akan membiayai kuliahmu. Ingat, studi pasca-sarjana itu tidak murah, apalagi kalau di luar negeri. Jadi, yakinkan kepada penguji bahwa apa yang akan kamu lakukan dalam studi pasca-sarjana itu kelak akan berkontribusi kepada rakyat Indonesia yang berinvestasi ratusan juta hingga miliaran rupiah demi menyekolahkanmu.
- Dan yang tak kalah penting, jangan terlalu mepet dengan batas akhir pendaftaran. Personal stetement 1500 kata itu panjang banget! Persiapkan dengan baik jauh-jauh hari. Jangan sampai submit pendaftaran di hari terakhir dan websitenya malah crash karena semua orang mengakses pada saat bersamaan.
Akhir kata, terima kasih telah membaca, dan semoga perjalanan ke depan diberikan kelancaran.
Tangerang Selatan, 13 Juli 2026


.jpg)











pertama, selamat, lur wes keterima studi di jepang. semoga lancar mengko studine.
BalasHapussing kedua, aku begitu baca ini rasanya malah ternyata untuk sekadar "sekolah" aja prosesnya panjang ya ternyata. jauh berbeda dengan ketika dari SMA ke S1. hahaha. mungkin ini juga sebagai pembenaran aja karena aslinya aku sudah males sekolah lagi, meskipun sebenarnya kadang suka pengen sekolah lagi juga.
Trims komennya mas Gallant. memang segala sesuatu yang baik itu prosesnya panjang. hahhah
HapusAyo semangat sekolah demi naik pangk... eh maksudnya bangsa dan negara.
Alhamdulillah selamat mas, semoga perjuangannya membuahkan hasil terbaik di Jepang nanti, saran saya kunjungi Osaka dan Kyoto, dua tempat itu bagus untuk melepas penat di sela-sela S3
BalasHapusTrims, Arif. Pasti akan mengunjungi Osaka. Memang dari dulu pingin ke sana.
Hapus